Sahabat itu.

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 18, 2012
Seseorang yang sangat berarti di hidup kali ini adalah seorang sahabat, shabat yang selalu mendengarkan curhat ku, memberikan solusi yang terbaik untuk masalah yang aku alami. Wildan. satu nama yang selalu aku cari jika aku membutuhkan teman. Meskipun banayak teman yang dekat dengan ku Cuma Wildan yang paling sering dengerin cerewet ku. Entah mengapa akhir akhir ini ada yanga aneh pada sahabat ku yang satu ini. Padahal dulu kalo di cari gampang sekarang kalo di cari kadang ngelak lah kadang suka cari cari alasan. Aku enggak tau alasan dia kayak gitu ke aku kenapa.
“Mana wildan??“salah satu teman seelas ku bertanya..
“enggak tau,, tadi katanya dia harus ngerjain tugas dan harus di kumpulin hari ini juga, dari guru lesnya“
“Ow,, kamu kenapa sih sama wildan, akhir akhir ini jarang banget keliatan bareng??“
“Aku juga enggak tau alasan dia kayak gitu. Kentara banget ya kalo lagi menjauh?“
“yaiyalah, biasanya juga jam istirahat kamu udah ngoceh ke wildan, eh aku ke kantin dlu ya??“
“iya..“
“mau nitip??“
“enggak makasih..“
Apa segitunyakah persahabatan ku dengan wildan?? Waktu tidak ada komunikasi mencolok banget. Aku merasa yah beitulah aku. Aku tidak berkeinginan untuk mengganggunya saat ini, paling juga ada masalah yang enggak harus di ceritain. Atau dia lagi konsen belajar karena bentar lagi kan ada langan kenaikan kelas.  Aku juga tidak terlalu memusingkan hal ini. Karna aku percaya sahabat selalu ada untuk sahabatnya. Dan aku juga harus konsentrasi belajar untuk persiapan ku sendiri. Karena 1minggu lagi UAS dilaksanakan. 3 hari sebelum UAS aku ke rumahnya hanya sekedar untuk berkunjung.
“Assalamualaikum“
“Walaikumsalam“ mama wildan yangmembuka pintu “eh nabila, cari wildan ya??“
“Iya tante. Wildannya ada te??“
“Maaf ya nak, wildannya baru aja keluar sama papanya ke rumahsakit“
“Kerumahsakit??“
“Iya,, barusan aja berangkat,, tadi enggak ketemu?? Ayo masuk kamu udah lama lho enggak kerumah tante“
“Enggak ketemu te. Iya udah enggak usah repot repot tante Cuma bentar aja. Maaf te, saya balik dulu“
“Lho kok keburu. Yaudah ada pesan buat wildan??“
“Bilang aja ada temennya ke sini tadi, jangan bilang saya yang dateng ya tante“
“Iya. Ada masalah ta sama wildan??“
“Enggak kok,, yaudah saya pulang dulu ya te,, Assalamualaikum“
“Walaikumsalam“

Aku tidak berani mengutarakan banyak tanyaku tentang wildan, karena aku tau mama wildan pasti bakalan curiga apa yang terjadi antara aku dan wildan yang bakal bikin marah mamanya. Karena mamanya paling neggak suka sahabat di bohongi tentang apapun itu. Aku hanya berfikir positif tentang rumah sakit itu meskipun aku masih sering bertanya tanya apa yang sebenernya terjadi??
UAS pun tiba. Masalah persahabatan ini sedikit terlupakan karena aku harus berkonsentrasi dengan apa yang harus aku lakukan ke depan. kebetulan juga aku satu ruangan sama wildan. Jadi bisa memantau kondisinya saat ini. Dan tentang rumah sakit itu. Ternyata kita bener bener merenggang. Meski masih satu ruangan tapi wildan jarang mengajak bicara aku. Aku membiarkan semua itu terjadi. Aku hanya takut dengan kondisinya saat ini. Gampang banget murung. Lebih pediam. Hari ke 3 dan 4 wildan enggak masuk, aku enggak tau alasan dia sebenernya ap. aku hanya mengikuti perkembangan yang ada di sekitar ku dan wildan. UAS selesai dengan hasil yang memuaskan. Dan wildan juga hasinya memuaskan. Aku tidak pernah melihatnya di sekolah lagi setelah UAS dan ujian praktek selesai. Mungkin karena dia tidak terlalu suka menonton karena di sekolah hanya ada pertandingan antar kelas. Lanjut ke liburan yang membosankan tanpa sahabat yang selalu membuatku ceria. Kita nihil komunikasi sama sekali selama 2 minggu di mulai dari UAS sampe liburan datang menjemput. Di pertengahan liburan dan di sore hari ada suara  motor berhenti di depan rumah aku segera berlari membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata tidak sesuai yang aku harapakan yang datang Adam.
“kok lesu sih. Temennya dateng kok”
“iya maaf, mau ngapain??“
„“iya gpp, aku ngerti kok, ikut aku yok.. penting nih..“
„“mau kemana??“
„“udahlah ntar kamu juga tau,, enggak bakal di sesatin kok, di jamin,“
„“Apa jaminannya??“
„“kalo aku nyesatin kamu, aku mau kok kam benci seumr hidup..“
„“enggak boleh tauk, ngebenci orang itu.“
„“iyaudahwez terserah..“
„“bneran ya??“
„“iya ayo cpt gnti bju terus berangkat. Baju resmi ya“
Aku segera masu rumah dan bergati pakaian  aku heran kenapa harus pake baju resmi. Aku menuruti kemauan Adam. Setelah berganti aku segera keluar menemui Adan dan beragkat. Selama perjalanan kami sama sama diem. Karena aku enggak terlalu akrab sama adam. Adam juga salah satu temennya wildan dan aku jga kenal meski jarang ngobrol. Sepertinya aku mengetahui arah perjalanan ini menuju mana. Aku tidak bertanya langsung kenapa kita menuju rumah wildan menggunakan baju resmi mendekati rumah widan ak tercekat melihat bendera dengan gambar + berkibar di pagar rumah wildan. Dan orang orang berdatangan menggunakan baju hitam.  Setelah mesin mobil di matikan aku terpaku tidak bergerak di tempat ku saat ini. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana tapi firasatku mengatakan ini ada hubungannya dengan rumah sakit itu.
‚“nabila?? Are you okay??“ Adam membuyarkan lamunan ku..
„“yah, i’m fine..“
„“mau masuk atau tetep diem di mobil??“
„“ada apa ini??“
„“kamu bakal tau kalo kamu masuk“
„“enggak mau“ mataku mulai panas. Adam keluar mobil dan membukakan pintu mobil ku..
„“ayolah..“ aku keluar dengan paksaan Adam. Aku mengikuti arah adam berjalan menuju ruang tamu. Begitu mamanya meihat aku mamanya langsung memegang tanganku dan menuntunnya masuk kamarnya.
„“maaf ya nabila, tante enggak cerita ini ke kamu, tante tau wildan juga enggak cerita ini ke kamu, ini atas permintaan wildan dan wildan nitipin surat ini bat kamu“ mama wildan memberika sepucuk surat dan aku membuka dan membacanya
Dear nabila
Assalamualaikum
Sebelumnya aku mau minta maaf karena selama ini aku menjauh dari kamu, aku enggak marah dan aku enggak benci sama kamu. Aku enggak mau liat kamu sedih. Aku jadi kayak gini sekarang karena emang aku udah enggak bisa di dunia ini lagi aku kena kanker. Maaf aku enggak cerita ke kamu tentang masalah ini. Aku enggak mau di kasihani Cuma gara gara masalah ini. Temen temen ku yang tau kamu emang aku suruh tutup mulut soal masalah ini meski mereka maksa aku untuk ngomong apa yang terjadi sama aku sekarang. Melalui surat ini aku minta maaf atas semua salah ku. Dan ikhlasin pergi ku. Jangan nangis ya. Semoga dapet sahabat yang lebih baik dari aku. Maaf enggak bisa dengerin curhatmu akhir akhir ini. Aku engga mau kamu kepikiran.dan maksih buat canda tawa yang selalu kamu kasih ke aku. Wildan. Your BFF..
Setelah membaca surat itu seketika tumpah air mata yang dari tadi tertahan di kelopak mata. Mama wildan meninggalkan aku sendiri di kamarnya. Tak lama sahabat perempuanku mendatangiku dan bertambahlah air mata yang keluar. Aku menumpahkan perasaan ku semuanya aku berharap ini enggak akan terjadi.. kenapa harus terjadi disaat aku benar benar butuh seorang seperti wildan. Kenapa tuhan mempertemukan bila harus di pisahkan dengan cara yang seperti ini. Setelah rumah wildan sepi tinggal orang tertentu yang masih berada di rumah duka. Kami berdoa bersama. Setelah berdoa kami bersalaman dan pulang. Sepanjang perjalanan airmataku terus mengalir Adam tidak tega dan membiarkan aku seperti ini. Sahabat yang selalu ada di saat yang di btuhkan tiba tiba menghilang dan tidak kembali. Dan yang masih punya sahabat dekat. Jangan sia siakan sahabat mu. Atau suatu saat akan menyesal. Penyesalah selalu di belakang kawan.. jangan sia siakan sahabat yang  sudah pernah berkorban untuk mu

Comments to Sahabat itu.


Post a Comment

Sahabat itu.

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 18, 2012
Seseorang yang sangat berarti di hidup kali ini adalah seorang sahabat, shabat yang selalu mendengarkan curhat ku, memberikan solusi yang terbaik untuk masalah yang aku alami. Wildan. satu nama yang selalu aku cari jika aku membutuhkan teman. Meskipun banayak teman yang dekat dengan ku Cuma Wildan yang paling sering dengerin cerewet ku. Entah mengapa akhir akhir ini ada yanga aneh pada sahabat ku yang satu ini. Padahal dulu kalo di cari gampang sekarang kalo di cari kadang ngelak lah kadang suka cari cari alasan. Aku enggak tau alasan dia kayak gitu ke aku kenapa.
“Mana wildan??“salah satu teman seelas ku bertanya..
“enggak tau,, tadi katanya dia harus ngerjain tugas dan harus di kumpulin hari ini juga, dari guru lesnya“
“Ow,, kamu kenapa sih sama wildan, akhir akhir ini jarang banget keliatan bareng??“
“Aku juga enggak tau alasan dia kayak gitu. Kentara banget ya kalo lagi menjauh?“
“yaiyalah, biasanya juga jam istirahat kamu udah ngoceh ke wildan, eh aku ke kantin dlu ya??“
“iya..“
“mau nitip??“
“enggak makasih..“
Apa segitunyakah persahabatan ku dengan wildan?? Waktu tidak ada komunikasi mencolok banget. Aku merasa yah beitulah aku. Aku tidak berkeinginan untuk mengganggunya saat ini, paling juga ada masalah yang enggak harus di ceritain. Atau dia lagi konsen belajar karena bentar lagi kan ada langan kenaikan kelas.  Aku juga tidak terlalu memusingkan hal ini. Karna aku percaya sahabat selalu ada untuk sahabatnya. Dan aku juga harus konsentrasi belajar untuk persiapan ku sendiri. Karena 1minggu lagi UAS dilaksanakan. 3 hari sebelum UAS aku ke rumahnya hanya sekedar untuk berkunjung.
“Assalamualaikum“
“Walaikumsalam“ mama wildan yangmembuka pintu “eh nabila, cari wildan ya??“
“Iya tante. Wildannya ada te??“
“Maaf ya nak, wildannya baru aja keluar sama papanya ke rumahsakit“
“Kerumahsakit??“
“Iya,, barusan aja berangkat,, tadi enggak ketemu?? Ayo masuk kamu udah lama lho enggak kerumah tante“
“Enggak ketemu te. Iya udah enggak usah repot repot tante Cuma bentar aja. Maaf te, saya balik dulu“
“Lho kok keburu. Yaudah ada pesan buat wildan??“
“Bilang aja ada temennya ke sini tadi, jangan bilang saya yang dateng ya tante“
“Iya. Ada masalah ta sama wildan??“
“Enggak kok,, yaudah saya pulang dulu ya te,, Assalamualaikum“
“Walaikumsalam“

Aku tidak berani mengutarakan banyak tanyaku tentang wildan, karena aku tau mama wildan pasti bakalan curiga apa yang terjadi antara aku dan wildan yang bakal bikin marah mamanya. Karena mamanya paling neggak suka sahabat di bohongi tentang apapun itu. Aku hanya berfikir positif tentang rumah sakit itu meskipun aku masih sering bertanya tanya apa yang sebenernya terjadi??
UAS pun tiba. Masalah persahabatan ini sedikit terlupakan karena aku harus berkonsentrasi dengan apa yang harus aku lakukan ke depan. kebetulan juga aku satu ruangan sama wildan. Jadi bisa memantau kondisinya saat ini. Dan tentang rumah sakit itu. Ternyata kita bener bener merenggang. Meski masih satu ruangan tapi wildan jarang mengajak bicara aku. Aku membiarkan semua itu terjadi. Aku hanya takut dengan kondisinya saat ini. Gampang banget murung. Lebih pediam. Hari ke 3 dan 4 wildan enggak masuk, aku enggak tau alasan dia sebenernya ap. aku hanya mengikuti perkembangan yang ada di sekitar ku dan wildan. UAS selesai dengan hasil yang memuaskan. Dan wildan juga hasinya memuaskan. Aku tidak pernah melihatnya di sekolah lagi setelah UAS dan ujian praktek selesai. Mungkin karena dia tidak terlalu suka menonton karena di sekolah hanya ada pertandingan antar kelas. Lanjut ke liburan yang membosankan tanpa sahabat yang selalu membuatku ceria. Kita nihil komunikasi sama sekali selama 2 minggu di mulai dari UAS sampe liburan datang menjemput. Di pertengahan liburan dan di sore hari ada suara  motor berhenti di depan rumah aku segera berlari membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ternyata tidak sesuai yang aku harapakan yang datang Adam.
“kok lesu sih. Temennya dateng kok”
“iya maaf, mau ngapain??“
„“iya gpp, aku ngerti kok, ikut aku yok.. penting nih..“
„“mau kemana??“
„“udahlah ntar kamu juga tau,, enggak bakal di sesatin kok, di jamin,“
„“Apa jaminannya??“
„“kalo aku nyesatin kamu, aku mau kok kam benci seumr hidup..“
„“enggak boleh tauk, ngebenci orang itu.“
„“iyaudahwez terserah..“
„“bneran ya??“
„“iya ayo cpt gnti bju terus berangkat. Baju resmi ya“
Aku segera masu rumah dan bergati pakaian  aku heran kenapa harus pake baju resmi. Aku menuruti kemauan Adam. Setelah berganti aku segera keluar menemui Adan dan beragkat. Selama perjalanan kami sama sama diem. Karena aku enggak terlalu akrab sama adam. Adam juga salah satu temennya wildan dan aku jga kenal meski jarang ngobrol. Sepertinya aku mengetahui arah perjalanan ini menuju mana. Aku tidak bertanya langsung kenapa kita menuju rumah wildan menggunakan baju resmi mendekati rumah widan ak tercekat melihat bendera dengan gambar + berkibar di pagar rumah wildan. Dan orang orang berdatangan menggunakan baju hitam.  Setelah mesin mobil di matikan aku terpaku tidak bergerak di tempat ku saat ini. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana tapi firasatku mengatakan ini ada hubungannya dengan rumah sakit itu.
‚“nabila?? Are you okay??“ Adam membuyarkan lamunan ku..
„“yah, i’m fine..“
„“mau masuk atau tetep diem di mobil??“
„“ada apa ini??“
„“kamu bakal tau kalo kamu masuk“
„“enggak mau“ mataku mulai panas. Adam keluar mobil dan membukakan pintu mobil ku..
„“ayolah..“ aku keluar dengan paksaan Adam. Aku mengikuti arah adam berjalan menuju ruang tamu. Begitu mamanya meihat aku mamanya langsung memegang tanganku dan menuntunnya masuk kamarnya.
„“maaf ya nabila, tante enggak cerita ini ke kamu, tante tau wildan juga enggak cerita ini ke kamu, ini atas permintaan wildan dan wildan nitipin surat ini bat kamu“ mama wildan memberika sepucuk surat dan aku membuka dan membacanya
Dear nabila
Assalamualaikum
Sebelumnya aku mau minta maaf karena selama ini aku menjauh dari kamu, aku enggak marah dan aku enggak benci sama kamu. Aku enggak mau liat kamu sedih. Aku jadi kayak gini sekarang karena emang aku udah enggak bisa di dunia ini lagi aku kena kanker. Maaf aku enggak cerita ke kamu tentang masalah ini. Aku enggak mau di kasihani Cuma gara gara masalah ini. Temen temen ku yang tau kamu emang aku suruh tutup mulut soal masalah ini meski mereka maksa aku untuk ngomong apa yang terjadi sama aku sekarang. Melalui surat ini aku minta maaf atas semua salah ku. Dan ikhlasin pergi ku. Jangan nangis ya. Semoga dapet sahabat yang lebih baik dari aku. Maaf enggak bisa dengerin curhatmu akhir akhir ini. Aku engga mau kamu kepikiran.dan maksih buat canda tawa yang selalu kamu kasih ke aku. Wildan. Your BFF..
Setelah membaca surat itu seketika tumpah air mata yang dari tadi tertahan di kelopak mata. Mama wildan meninggalkan aku sendiri di kamarnya. Tak lama sahabat perempuanku mendatangiku dan bertambahlah air mata yang keluar. Aku menumpahkan perasaan ku semuanya aku berharap ini enggak akan terjadi.. kenapa harus terjadi disaat aku benar benar butuh seorang seperti wildan. Kenapa tuhan mempertemukan bila harus di pisahkan dengan cara yang seperti ini. Setelah rumah wildan sepi tinggal orang tertentu yang masih berada di rumah duka. Kami berdoa bersama. Setelah berdoa kami bersalaman dan pulang. Sepanjang perjalanan airmataku terus mengalir Adam tidak tega dan membiarkan aku seperti ini. Sahabat yang selalu ada di saat yang di btuhkan tiba tiba menghilang dan tidak kembali. Dan yang masih punya sahabat dekat. Jangan sia siakan sahabat mu. Atau suatu saat akan menyesal. Penyesalah selalu di belakang kawan.. jangan sia siakan sahabat yang  sudah pernah berkorban untuk mu

Comments to Sahabat itu.


Post a Comment

hy readers! my real name Nisrina Nabillah. you can call me Nisrina or bella. 17years old. Muhammadiyah 2 Senior High School. just ordinary girl. enjoy guys. :)
This site talk about me, my friends, my mind, my life, talk about life, lofe, and laugh.
Put links to your affiliates/link exchanges
just me and my self.
Contact form here, maybe?