cahaya sesaat tapi menghangatkan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 1, 2014


Dering di ponsel membuatku terbangun. Nomer tidak di kenal. Aku membalas. Dengan menanyakan dengan siapa.
Ternyata Putra, anak yang ikut ngerayain tahun baru tadi malam di rumah seniorku, anak satu fakultas denganku tapi tidak satu jurusan.
Dia terus sms aku menanyaan pertanyaan klasik sih, seperti sudah makan, sudah shalat,lagi apa. Dan pertanyaan lainnya. Asik juga anaknya, tapi mungkin aku terlalu cuek karena ada beberapa sms yang enggak aku balas.
Empat hari berlalu. Sebuah sms masuk di siang hari ketika aku mencoba untuk beristirahat. Dari Putra juga
“Actually when we met at the first time, and at the same time too i feel if i’m fallin in love with you in first looking, i’m sorry maybe it too fast to you, sorry”
Seketika aku terkagum dengan isi sms itu, memang semuanya terlalu cepat berjalan. Tapi dia juga mengerti apa yang akan di lakukan. Sms berjalan santai sejak Putra mengirim sms seperti itu. Dengan keadaan masih UAS Putra memilih untuk konsentrasi dengan UAS dulu, selesai UAS dia berjanji aku membicarakan dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari hari berlalu, Putra terus sms dan aku membalasnya dengan seperlunya. Dia juga sering duduk di ruang Himpunan karena aku juga sering di situ. Tapi kita enggak pernah ngobrol. Hanya sekedar lewat saja. Tapi sebenernya aku pengen ngajak ngobrol saat dia sedang diam. Tapi dia lebih sering mainan di laptopnya. Atau sekedar duduk diam.
Hari jum’at tiba, selesai UAS aku cepat meninggalkan kampus menuju ke kost salah satu temanku. Putra mencariku. Kali ini aku beralasan seperti tidak ada apa apa. Tapi aku tau dia sebal. Aku belom pernah mengalami seperti ini. Entah kenapa aku jadi menghindar.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke kampus karena ada test bahasa inggris. Putra mencariku lagi tapi aku beralasan tidak enak badan.
Dia terus menghubungiku. Aku mulai suka dengannya. Meskipun sepertinya aku merusak rencananya. Aku tau dia sedikit kecewa. Aku telah banyak mengeluarkan ke egoisanku, tapi Putra tetep menghubungiku, membuatku nyaman dengannya. Aku benar benar mulai suka dengannya.
Dia pernah menanyaiku lebih memilih apel atau anggur. Ini alasannya. Kalo apel berarti lebih milih di apelin, kalo anggur berarti lebih milih di anggurin. Kreatif juga. Hehe.
Hari hari terus berlalu. Sebuah sms kembali masuk dan membuatku tercengang kembali.
“i wanna love you so right, so pure, so strong and crazy for you”
Aku mulai bercanda dengannya. Sebenarnya bukan hal yang baik sih. Tapi entah kenapa aku hanya ingin tau seberapa besar dia serius. Dia berjanji tidak akan menyakitiku dengan berbagai alasan. Dia juga bertanya kapan “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita”. Aku ingin menjawabnya sekarang. Tapi Putra tidak ingin mendengarnya melalui pesan singkat. Dia ingin langsung berbicara kepadaku.  Dia siap menunggu saat yang tepat. Aku juga akan menunggu saat yang tepat, hari itu pasti akan datang. Keyakinan itu ada di antara aku dan Putra. Meskipun itu lama kita tahu itu akan terjadi. Aku senang mendengarnya. Dan mungkin aku merasakan apa yang ia rasakan.
Tak lama, aku berlibur bersama teman terdekatku di kampus ke sebuah pantai. Ini kebiasaan burukku. Jika aku sedang berlibur, aku tidak ingin di ganggu dengan alasan apapun, agar aku bisa merasakan dan menikmati  apa yang aku dapat selama berlibur.
Sampai di rumah keesokan harinya aku membuka hape dan banyak sms dari Putra dia marah marah karena sms nya enggak di balas. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dia khawatir. Dan dia marah. Aku meminta maaf terus menerus. Hingga tak lama, suasana kembali mencair kembali.
Tapi dia membalas apa yang aku lakukan keesokan harinya. Dia tidak membalas sms ku selama dua hari, hari kedua dia membalas sms ku dengan canda tawa kembali. Aku menanyai nya tentang masalah kemarin dia kecewa, marah atau nyesel. Dia jawab bukan dari ketiganya. Aku senang dia bukan tipe orang yang mudah marah karena sifatku. Aku senang dia bisa mengerti kebiasaan burukku ini. Aku berfikir dia lebih baik dari orang yang pernah ada di hidupku selama ini. Dia bisa mengerti ke egoisanku, dia bisa mengerti cuek ku dan dia sangat perhatian.
Dia pernah menanyaiku soal pendidikan.
Aku mulai tidak cuek dan selalu membalas sms dia, tidak seperti waktu pertama kali. Aku benar benar luluh di buatnya.
“i love you, not because of what you have but because of what i feels i care you, not because you need care but because i want to and for all that i’m fallin in love with you”
Dia mengirimiku sms itu, memyakinkanku, membuatku percaya semua apa yang akan di lakukannya,  membuatku benar benar nyaman terhadapnya. Meyakinkanku dia enggak akan pernah membuatku sakit meskipun itu sedikit. Dia membuatku sangat yakin dia menjadi yang terbaik di hidupku saat ini.
Aku memberitahunya tentang sifatku yang enggak mudah suka atau sayang sama orang, tapi kalo udah sayang aku susah buat lupa. Dia seperti mendapat secerah cahaya di tengah usahanya mencairkan kebekuanku. Aku bernafas lega dia bisa menerimaku apa adanya.
Enggak lama dari itu ada yang berubah dari dia. Dunia terasa terbalik. Dia yang menjadi cuek aku yang selalu menanyainya. Dan sms di bales lama banget. Dia mengajakku keluar ke sebuah acara, tapi aku tolak dengan alasan groundnya enggak aku suka, dan dia mengajak ke malang. Tapi aku sudah punya janji dengan teman teman lain. Dia berubah.
Suatu hari aku bertemu dia di kampus, tidak ada say hay. Cuma sekedar lewat saja. Aku meyakinkan diriku, dia mungkin masih kaget. Ada yang berbeda dengan semuanya. Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sibuk sehingga membalas smsku lama.
Tapi lama kelamaan aku membuka salah satu sosmednya dia benar benar berubah. Putra berubah.
Aku mengirim dia pesan berterimaksih atas janji, perhatian dan sayang yang pernah dia bilang selama ini. Makasih atas keyakinan yang pernah dia kasih ke aku. Bikin aku nyaman sama dia. Malam itu aku benar benar menangis membaca salah satu sosmednya Putra. Ada apa dengan dia. Mana sayang dan keyakinan yang selalu dia kasih ke aku selama ini. Mana keyakinana kalo “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita” seperti lenyap di telan hujan.
Setelah itu salah satu kakak ku menelfon menanyai keadaanku. Enggak banyak yang bisa aku ceritakan ke dia tapi aku tau kakak ku mengerti apa yang terjadi. Dia meminta ku menemuinya di kampus besok. Setelah telfon treputus ada sms dari Putra. Dia akan mejelaskan besok di kampus. Aku mengiyakan permintaannya.
Besoknya aku di kampus seharian aku tidak bertemu dengan Putra. Aku tau dia di kampus karena kakak ku sempat ngobrol sama dia di kantin. Tapi dia tidak bilang dia di kantin. Hari itu aku benar benar kecewa berat dengan Putra. Malamnya sepulang dari kampus aku kembali menangis di dalam kamar sendiri.
Aku mengirim dia pesan lagi meminta penjelasan. Aku sudah pernah bilang ke Putra, sekali aku sayang sama orang aku susah buat lupa dengan perasaan itu. Dan sekarang aku bener bener sayang sama Putra. Tapi dia pergi tanpa alasan yang jelas.
Dan hari hari ini aku mencoba berusaha tersenyum dan mengembalikan hidupku sebelum aku bertemu dengan Putra. Terimakasih untuk kesempatan merasakan keyakinan dan kasih sayang dari kamu. Secepat ini kah. Semudah itu kamu memulai dan mengakhiri apa yang udah kamu mulai? Sampe sekarang aku tidak mengerti alasan di balik ini semua.

Tidak Lebih Dari Itu

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Friday, August 2, 2013
Suatu sore yang cerah, aku seperti melihat keajaiban di depan rumahku saat aku tahu dia tiba tiba datang ke rumah. Sore ini aku memang ada acara kumpul dengan teman lama termasuk dia. Tapi aku tidak memintanya untuk menjemputku. Aku tersenyum ke arahnya
"Hi, kok di sini?"
"Kamu enggak ikut ngumpul hari ini?" Suaranya masih ketus seperti yang dulu pertama kali aku kenal dengannya.
"Ikut, tumben aja mau ke rumah"
"Aku udah sms kamu tadi" aku teringat tentang sesuatu, dimana hapeku ya? Ini kebiasaan lamaku, hape entah kemana.
"Tunggu bentar ya, aku ambil tas" dia tersenyum ke arahku.
Ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia setelah kelulusan SMA, 8 bulan yang lalu. Dan setelah aku terlibat berbagai konflik batin dan konflik fisik dengan dia. Dia adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta di masa masa indah menjalani SMA. Aku mengenalnya karena kita satu kelas dan secara kebetulan extra kita sama. Hari hari berlalu menjadi minggu yang indah menurutku. Bercerita panjang lebar dengan topik apapun itu, canda tawa keluar dari masing masing mulut kami, atau perasaan sedih memikirkan segalanya. Dan saat itu aku mulai mengenalnya. Aku tahu dia mempunyai cewek lain di luar sekolah ini. Tapi who care? Aku cuma mengaguminya. Aku juga pernah bertemu dengan ceweknya. Manis. Itu kesan pertama yang aku lihat ceweknya untuk pertama kalinya. Karena kita di beban tugaskan pada suatu tugas yang kita berdua harus selesaikan. Kita berhasil menyelesaikan tugas dengan lancar atau ada cekcok di beberapa moment tidak penting. Satu kenangan yang masih hangat tersimpan di dalam memori ingatanku. Dia mengajakku menonton untuk pertama kalinya, meeskipun tidak berdua aku cukup senang. Kami ber-enam waktu itu. Kesenangan itu lenyap begitu saja seiring dengan jalannya waktu, kami mulai menjauh sedikit demi sedikit. Aku merasakan perubahan pada pribadinya. Dia menjadi orang lain. Ada orang lain di antara kami. Tapi akukan bukan siapa siapa untuk melarangnya. Mulai dari saat itu aku seperti tidak mengenalnya, begitupula dengan dia yang memang tidak peduli. Sampai pada kenaikan kelas kita tidak sekelas lagi hanya bertetangga. Aku tersenyum senang melihat papan pengumuman waktu itu. Dan pertama kali kita mulai mengobrol setelah liburan panjang hari raya.
"Mohon maaf lahir dan batin ya bel" itu kalimat pertamanya, aku sempat tertegun sesaat. Aku menyalami tangan yang terulur di hadapanku itu, kita sama sama tersenyum. Senyumnya masih sama. Manis. Dia duduk di kursi depanku dan terdiam. Hari ini tidak ada pelajaran hari pertama.
"Aku putus sama Lexa" dia memulai pembicaraan. Aku melihatbke arah matanya, mungkin ada aura penyesalan di sana. "Dia tahu aku sam Dini" kali ini aku benar benar terkesiap dengan pengakuan-nya. Dini itu kakak kelas yang bikin aku sama dia sediikit menjauh dulu. Aku tidak berkomentar. "Menurutmu?"
"Kalo mau di perjuangin, jangan pernah main main dengan perasaan. Jangan ada keburukan di antara kalin" ucapku mungkin sedikit menyindir perasaannya. Tapi itu benar kan? Dia tertegun untuk sesaat. Sepersekian detik kemudian dia tersenyum ke arahku.
"Ayo ke lab" seseorang menepuk bahunya dari belakang. Mungkin dia sedikit kaget dengan tepukan itu. Sepertinya banyak yang sedang ia pikirkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa banyak membantunya. Dia kembali tersenyum ke arahku lalu berlalu dari hadapanku.
Beberapa bulan kemudian angin itu berhembus keras ke arahku membawa berita yang mengejutkan. Meskipun sudah lama berita itu berlalu tapi tetap membuatku tertegun. Dia bersama kakakmkelas itu. Mulai dari itu aku tidak banyak perduli seperti dulu. Meskipun dia tidak bersama siapapun kali ini. Hanya beberapa urusan yang membuat kita masih dekat. Tapi aku tetap tidak perduli lagi.
Setelah kita benar benar kelas 3 tidak ada tanggung jawab yang berhubungan dengan dia. Hari hari berlalu aku dan dia hanya saling sapa kadang kala dia mulai bercerita panjang lebar. Pernah aku berfikir, apakan setelah ini kamu akan pergi lagi?. Tapi aku hanya membiarkan semuanya berlalu dengan apa adanya.
Banyak perubahan yang terjadi setahun belakngan dengan dia. Dia mulai berfikir yang tidak tidak dari cerita panjang lebarnya. Dia dekat dengan perempuan lain karena satu obsesi. Aku benar benar berfikir dia benar benar sudah tak sama. Beberapa kali aku membaca di salah satu akunnya yang sering banyak tulisan menghiasi, aku tahu siapa cewek itu. Kalian memang cocok dengan obsesi, kekurangn dan kelebihan di antara kalian. Itu kesimpulan yang aku dapat.
Setelah kelulusan tiba, sebenarnya kali ini aku berniat meminta foto dengannya hanya sebagai kenangan. Tapi saat aku mencarinya, dia sudah menghilang. Sedikit kecewa sih. Tapi tidak terlalu berpengaruh di hidupku. Sejak tiu kita tidak bertemu lagi. Aku tahu dia sudah kuliah di jurusan dan universitas favorit. Itu yang terakhir aku dengar dan baca darinya.
Aku naik ke motornya, lalu kamu berangkat. Sampai di tujuan sudah lumayan banyak yang datang. Aku duduk di antara sahabatku.
"Kamu sama Dirga?" Salah satu sahabatku membisikkan kalimat itu. Aku langsung menggeleng kuat. Acara demi acara berlalu sepertinya ada yang aneh. Beberapa orang melihatku tidak enak. Dalam perjalanan pulang dia mengajakku duduk di sebuah tempat yang sering di kunjungi para muda mudi.
"Di tanyan sama anak anak?" Dia membuka pembicaraan sambil mengaduk coffe late yang di pesan.
"Iya, emang aneh ya?"
"Mereka aja yang enggak bisa biasa"
"Asti mulai berubah" dia masih dengan cewek itu.
"Tapi lebih baik, kita udah enggak kayak dulu, yang kalo kata orang kita barbar sekarang kita tenang..........." dan cerita panjang lainnya malam ini. Malam ini benar benar kita habiskan bersama. Tentang sekolahnya, tetang ceweknya dan tentang keluarganya yang perlu di ceritakan padaku. Dan mulai saat itu aku menyadari tetang sesuatu hal. Aku hanya sahabat pendengar yang baik bagi dia. Malam itu aku tersenyum entah berarti apa.

TAAAADAAAA!!!!!

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
                     Entah kenapa hari ini aku merasa hari yang brbeda dengan hari hari yang lainnya.
Sebuah ninja merah dengan helm teropong berwarna merah juga, memasuki halaman parkir salah satu tempat makan yang ada di kotaku. Aku dan teman teman lain sengaja memesan rumah makan ini untuk acara yang kami buat mungkin untuk terakhir kalinya sebelum kita benar benar berpisah karena kesibukan kuliah.
"Rizal sya" panas menjalar di seluruh tubuhku begitu aku melihat dia yang selama ini tanpa kabar setelah wisuda kala itu. Aku tersenyum ke arahnya setelah dia membuka helm dan menyalamiku dan temen di sebelahku.
"Mik, aji mau kesini"
"Mau ikut buber juga?" Tanyaku heran
"Enggak, dia mau jemput aku, ntar di anterin ke sini lagi" aku melongo. Tak lama aji cowok marsya sudah di depan parkiran dan marsya berjalan menjauh, hanya tinggal aku dan rizal di parkiran. Kebiasaan anak anak selalu aja telat.
"Kamu sekarang sama siapa?" Kalimat pertama pembuka kebisuan di antara kami.
"Lagi sendiri. Kamu pasti sudah" aku mengerti arah pembicaraan ini. Dia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku.
"Masuk mana?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Belum, masih nunggu pendaftaran yang lain, kamu mana?"
"Nunggu pengumuman. Gagal dimana sih?" Aku penasaran dari awal aku mendengar kabar yang tidak terlalu jelas dari orang lain. Akhirnya cerita panjang lebar pun aku dengar kan.
"Hai, cuma kalian berdua yang udah dateng?" Ria tersenyum nakal melihatku asik mengobrol.
"Tadi sih udah ada marsya cuma dia lagi kencan, hehe. Ntar balik kok" aku menunjuk motor marsya.
"Kalian balikan?" Aku tersedak mendengar kalimat itu.
"Ya enggak lah ri" lalu kami sama sama tertawa. Tak lama banyak anak yang mulai berdatangan dan memesan makanan.
Mungkin sekitar dua tahun lalu rasa itu mulai berkembang.
Hape ku berbunyi, sebuah sms masuk.
"Mik, ini rizal. Punya nomernya eka?" Itu sms pertama kali entah darimana dia mendapatkan nomerku. Aku membalas hanya memberikan sederet nomer.
"Thx" hanya itu balasan yang aku terima.
Lama kelamaan entah mengapa dia sering curhat mengenai eka ke padaku. Aku menaggapinya sesuai dengan sikapku. Cuek. Ya, aku duu memang terlalu cuek. Kalo dia tanyak ya aku jawab. Minta pendapat ya di kasih. Yah itulah aku dulu.
Hingga akhirnya hari itu dia menyatakan sesuatu di luar dugaanku.
"Bukannya kamu suka sama eka?" Tanyaku lewat sms waktu itu.
"Semuanya sudah berubah" aku tidak membalas sms terakhir itu. Mungkin tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Hingga akhirnya dia adalah orang yang pertama kali meluluh lantakkan tembok yang aku bangun di dalam batin ini. Dan terbalaskan dengan cara yang berbeda. Ini pengalaman pertama. Aku menjalaninya dengan cara yang baik. Hingga 8 hari itu berlalu.
"Udahan yuk?" Aku mengirim pesan itu ke rizal. Entah apa yang aku fikirkan waktu itu.
"Kok gitu?"
"Entahlah, kayak ada yang bebeda dengan semuanya" dari situ sms ku mulai tidak ada balasan.
Hari masuk sekolah setelah libur yang sangat panjang. Aku seperti lari dari kenyataan. Hari pertama masuk sekolah, Masuk kelas hanya sekedar menaruh tas dan ke kelas tetangga. Sahabatku pada saat itu. Aku melihatnya duduk di bangku tengah sedang menunduk.
Hari hari berlalu menjadi minggu, dan bulan.
Hari itu aku suasana antara aku dan rizal mulai mencair. Canda tawa ternyata masih hangat di telingaku. Entah kenapa panas langung menjalar ke badanku begitu aku tau rizal sudah bersama dengan yang lain, yang aku dengar dari marsya, tempat curhatku. Apa aku masih cemburu? Apa aku masih sayang?. Mulai saat itu aku mulai menjadi manusia cuek yang super pendiam.
Kenaikan kelas 3. Aku masih satu kelas dengan rizal.
Untuk yang kedua kalinya aku kembali ke hatinya. Kali ini aku ingin berhati hati. Aku ingin kali ini semuanya berbeda. Berjalan berbulan bulan akhirnya aku tahu dia masih memakai benda itu. Rokok. Aku benci benda itu. Sepele sih bagi semua orang. Konyol. Aku memang berfikir ini kan hal sepele. Tapi kalo memang sudah prinsip hidup? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Akhirnya tembok yang runtuh telah aku bangun di dalam batinku. Karena aku ingin konsentrasi dengn UN dan segala macam hl yang harus aku jalani, aku lupa dengan semua cerita lama itu.
Hingga akhirnya 1 minggu yang lalu, ada perasaan aneh berdesir di antara ruang batinku. Aku merindukannya. Aku menangis dalam diam. Tidak ada yang tahu. Aku cerita ke marsya, sedikit tenang.
Hingga akhirnya hari ini aku bertemu dengannya secara langsung. Dan rindu itu terobati dengan sendirinya. Simple right?

Aturan main

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, June 8, 2013
kalau kamu suka sesuatu karena kamu pikir orang lain bakal suka, sudah pasti takkan ada yang suka.
banyak pintu di dunia yang tertutup jadi kalalu kamu temukan 1 pintu yang membuat mu ingin masuk, kamu sebaiknya mengetuknya dengan menarik.
semua yang menurutmu penting... itu tidak penting dan semua yang menurutmu tidak penting itu penting.
bersandarlah pada itu semua.. artinya hasil tidaklah penting. yang penting adalah kamu ada saat itu. entah itu baik atau buruk

waktu tidak akan bisa di putar

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
A: apakah kamu pernah berharap kamu bisa kembali seperti ke waktu lain?
B: saya tidak keberatan mendaptkan hidup seperti ini.
A: jika anda di berikan satu kesempatan untuk mengulang sesuatu dalam hidup anda, apa itu?
B: tidak ada.
A: benarkah?
B: iya
A: tapi apakah anda pernah membuat kesalahan besar? atau yang dapat mengubah hidup anda? bagaimana dengan itu?
B: aku tahu aku banyak membuat kesalahan tapi aku tidak menyesal berbuat itu
A: bagaimana bisa?
B: karena jika saya tidak berbuat sepeti itu. saya tidak akan mempelajari bagaimana membuat hal hal yang benar

sebuah pilihan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
tarik nafas dan semuanya akan baik baik saja
saat rasa penasaran terjawab
saat kenyataan di temukan
di atas ingatan yang telah lalu
semuanya terasa berjalan cepat
pilihan kembali atau tetap
aku akan tetap pada pendirian
terasa asing di telinga
terasa kaku untuk berjalan
kesalahan bukan berarti penyesalan
kesalahan saat membuka hati
saat semuanya menjadi baik baik saja
saat waktu yang tepat untuk menjad seseorang
orang yang akan di mintai pertanggung jawaban
seutas tali telah terbentuk dengan ucapan
sebentuk harapan telah bersinar di ujung jalan kehidupan
seseorang membuatnya dengan baik
janji dalam perkataan telah terucap
itu hanya ucapan seorang manusia labil
mereka menyebutnya seperti itu
hanya karena kita masih terlalu lemah untuk percaya
kita masih belum berfikir dewasa
apa yang salah?
tidak ada kata salah selama mencoba
hanya jatuh yang kita dapat
atau berdiri tegak di atas tempat padat
dan selalu bisa berdiri dalam diam
terpuruk
berikir panjang untuk lebih baik
masa kelam terlewatkan
hanya berbuat untuk lebih baik
tapi segalanya terasa aneh hanya berjalan sendiri
di masa yang kita anggap semuanya akan baik baik saja bila bersamanya.

kita adalah sebuah keramik yang berharga

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, May 4, 2013
keramik berawal dari sebuh tanah liat yang tidak berarga. seseorang mengambilnya untuk menjadikannya lebih berharga. awal terbentuknya dengan cara memukul dan memutarnya. setelah terbentuk sebuah kreasi di dalamnya. agar keras lalu di jemur dan di hias untuk memperindah lalu terjual mahal. seperti halnya kita awalnya kita hanyalah sebuah seseorang yang tidak tahu akan menjadi apa. berawal dari kita terinjak tidak di pedulikan, tidak berharga. lalu kita berinisiatif untuk menjadi lebih berharga. dengan jalan tidak terlalu mudah untuk digapai. kadang terjatuh, caci makian banyak kita dengar. dari situ kita dapat introspeksi diri menjadi yang lebih baik. menilai diri sendiri. lalu kita berjalan kembali untuk lebih baik membentuk  karakter menjadi seseorang yang lebih baik. dan kita akan berharga untuk semua  orang.
← Rewind      

cahaya sesaat tapi menghangatkan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 1, 2014


Dering di ponsel membuatku terbangun. Nomer tidak di kenal. Aku membalas. Dengan menanyakan dengan siapa.
Ternyata Putra, anak yang ikut ngerayain tahun baru tadi malam di rumah seniorku, anak satu fakultas denganku tapi tidak satu jurusan.
Dia terus sms aku menanyaan pertanyaan klasik sih, seperti sudah makan, sudah shalat,lagi apa. Dan pertanyaan lainnya. Asik juga anaknya, tapi mungkin aku terlalu cuek karena ada beberapa sms yang enggak aku balas.
Empat hari berlalu. Sebuah sms masuk di siang hari ketika aku mencoba untuk beristirahat. Dari Putra juga
“Actually when we met at the first time, and at the same time too i feel if i’m fallin in love with you in first looking, i’m sorry maybe it too fast to you, sorry”
Seketika aku terkagum dengan isi sms itu, memang semuanya terlalu cepat berjalan. Tapi dia juga mengerti apa yang akan di lakukan. Sms berjalan santai sejak Putra mengirim sms seperti itu. Dengan keadaan masih UAS Putra memilih untuk konsentrasi dengan UAS dulu, selesai UAS dia berjanji aku membicarakan dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari hari berlalu, Putra terus sms dan aku membalasnya dengan seperlunya. Dia juga sering duduk di ruang Himpunan karena aku juga sering di situ. Tapi kita enggak pernah ngobrol. Hanya sekedar lewat saja. Tapi sebenernya aku pengen ngajak ngobrol saat dia sedang diam. Tapi dia lebih sering mainan di laptopnya. Atau sekedar duduk diam.
Hari jum’at tiba, selesai UAS aku cepat meninggalkan kampus menuju ke kost salah satu temanku. Putra mencariku. Kali ini aku beralasan seperti tidak ada apa apa. Tapi aku tau dia sebal. Aku belom pernah mengalami seperti ini. Entah kenapa aku jadi menghindar.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke kampus karena ada test bahasa inggris. Putra mencariku lagi tapi aku beralasan tidak enak badan.
Dia terus menghubungiku. Aku mulai suka dengannya. Meskipun sepertinya aku merusak rencananya. Aku tau dia sedikit kecewa. Aku telah banyak mengeluarkan ke egoisanku, tapi Putra tetep menghubungiku, membuatku nyaman dengannya. Aku benar benar mulai suka dengannya.
Dia pernah menanyaiku lebih memilih apel atau anggur. Ini alasannya. Kalo apel berarti lebih milih di apelin, kalo anggur berarti lebih milih di anggurin. Kreatif juga. Hehe.
Hari hari terus berlalu. Sebuah sms kembali masuk dan membuatku tercengang kembali.
“i wanna love you so right, so pure, so strong and crazy for you”
Aku mulai bercanda dengannya. Sebenarnya bukan hal yang baik sih. Tapi entah kenapa aku hanya ingin tau seberapa besar dia serius. Dia berjanji tidak akan menyakitiku dengan berbagai alasan. Dia juga bertanya kapan “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita”. Aku ingin menjawabnya sekarang. Tapi Putra tidak ingin mendengarnya melalui pesan singkat. Dia ingin langsung berbicara kepadaku.  Dia siap menunggu saat yang tepat. Aku juga akan menunggu saat yang tepat, hari itu pasti akan datang. Keyakinan itu ada di antara aku dan Putra. Meskipun itu lama kita tahu itu akan terjadi. Aku senang mendengarnya. Dan mungkin aku merasakan apa yang ia rasakan.
Tak lama, aku berlibur bersama teman terdekatku di kampus ke sebuah pantai. Ini kebiasaan burukku. Jika aku sedang berlibur, aku tidak ingin di ganggu dengan alasan apapun, agar aku bisa merasakan dan menikmati  apa yang aku dapat selama berlibur.
Sampai di rumah keesokan harinya aku membuka hape dan banyak sms dari Putra dia marah marah karena sms nya enggak di balas. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dia khawatir. Dan dia marah. Aku meminta maaf terus menerus. Hingga tak lama, suasana kembali mencair kembali.
Tapi dia membalas apa yang aku lakukan keesokan harinya. Dia tidak membalas sms ku selama dua hari, hari kedua dia membalas sms ku dengan canda tawa kembali. Aku menanyai nya tentang masalah kemarin dia kecewa, marah atau nyesel. Dia jawab bukan dari ketiganya. Aku senang dia bukan tipe orang yang mudah marah karena sifatku. Aku senang dia bisa mengerti kebiasaan burukku ini. Aku berfikir dia lebih baik dari orang yang pernah ada di hidupku selama ini. Dia bisa mengerti ke egoisanku, dia bisa mengerti cuek ku dan dia sangat perhatian.
Dia pernah menanyaiku soal pendidikan.
Aku mulai tidak cuek dan selalu membalas sms dia, tidak seperti waktu pertama kali. Aku benar benar luluh di buatnya.
“i love you, not because of what you have but because of what i feels i care you, not because you need care but because i want to and for all that i’m fallin in love with you”
Dia mengirimiku sms itu, memyakinkanku, membuatku percaya semua apa yang akan di lakukannya,  membuatku benar benar nyaman terhadapnya. Meyakinkanku dia enggak akan pernah membuatku sakit meskipun itu sedikit. Dia membuatku sangat yakin dia menjadi yang terbaik di hidupku saat ini.
Aku memberitahunya tentang sifatku yang enggak mudah suka atau sayang sama orang, tapi kalo udah sayang aku susah buat lupa. Dia seperti mendapat secerah cahaya di tengah usahanya mencairkan kebekuanku. Aku bernafas lega dia bisa menerimaku apa adanya.
Enggak lama dari itu ada yang berubah dari dia. Dunia terasa terbalik. Dia yang menjadi cuek aku yang selalu menanyainya. Dan sms di bales lama banget. Dia mengajakku keluar ke sebuah acara, tapi aku tolak dengan alasan groundnya enggak aku suka, dan dia mengajak ke malang. Tapi aku sudah punya janji dengan teman teman lain. Dia berubah.
Suatu hari aku bertemu dia di kampus, tidak ada say hay. Cuma sekedar lewat saja. Aku meyakinkan diriku, dia mungkin masih kaget. Ada yang berbeda dengan semuanya. Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sibuk sehingga membalas smsku lama.
Tapi lama kelamaan aku membuka salah satu sosmednya dia benar benar berubah. Putra berubah.
Aku mengirim dia pesan berterimaksih atas janji, perhatian dan sayang yang pernah dia bilang selama ini. Makasih atas keyakinan yang pernah dia kasih ke aku. Bikin aku nyaman sama dia. Malam itu aku benar benar menangis membaca salah satu sosmednya Putra. Ada apa dengan dia. Mana sayang dan keyakinan yang selalu dia kasih ke aku selama ini. Mana keyakinana kalo “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita” seperti lenyap di telan hujan.
Setelah itu salah satu kakak ku menelfon menanyai keadaanku. Enggak banyak yang bisa aku ceritakan ke dia tapi aku tau kakak ku mengerti apa yang terjadi. Dia meminta ku menemuinya di kampus besok. Setelah telfon treputus ada sms dari Putra. Dia akan mejelaskan besok di kampus. Aku mengiyakan permintaannya.
Besoknya aku di kampus seharian aku tidak bertemu dengan Putra. Aku tau dia di kampus karena kakak ku sempat ngobrol sama dia di kantin. Tapi dia tidak bilang dia di kantin. Hari itu aku benar benar kecewa berat dengan Putra. Malamnya sepulang dari kampus aku kembali menangis di dalam kamar sendiri.
Aku mengirim dia pesan lagi meminta penjelasan. Aku sudah pernah bilang ke Putra, sekali aku sayang sama orang aku susah buat lupa dengan perasaan itu. Dan sekarang aku bener bener sayang sama Putra. Tapi dia pergi tanpa alasan yang jelas.
Dan hari hari ini aku mencoba berusaha tersenyum dan mengembalikan hidupku sebelum aku bertemu dengan Putra. Terimakasih untuk kesempatan merasakan keyakinan dan kasih sayang dari kamu. Secepat ini kah. Semudah itu kamu memulai dan mengakhiri apa yang udah kamu mulai? Sampe sekarang aku tidak mengerti alasan di balik ini semua.

Tidak Lebih Dari Itu

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Friday, August 2, 2013
Suatu sore yang cerah, aku seperti melihat keajaiban di depan rumahku saat aku tahu dia tiba tiba datang ke rumah. Sore ini aku memang ada acara kumpul dengan teman lama termasuk dia. Tapi aku tidak memintanya untuk menjemputku. Aku tersenyum ke arahnya
"Hi, kok di sini?"
"Kamu enggak ikut ngumpul hari ini?" Suaranya masih ketus seperti yang dulu pertama kali aku kenal dengannya.
"Ikut, tumben aja mau ke rumah"
"Aku udah sms kamu tadi" aku teringat tentang sesuatu, dimana hapeku ya? Ini kebiasaan lamaku, hape entah kemana.
"Tunggu bentar ya, aku ambil tas" dia tersenyum ke arahku.
Ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia setelah kelulusan SMA, 8 bulan yang lalu. Dan setelah aku terlibat berbagai konflik batin dan konflik fisik dengan dia. Dia adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta di masa masa indah menjalani SMA. Aku mengenalnya karena kita satu kelas dan secara kebetulan extra kita sama. Hari hari berlalu menjadi minggu yang indah menurutku. Bercerita panjang lebar dengan topik apapun itu, canda tawa keluar dari masing masing mulut kami, atau perasaan sedih memikirkan segalanya. Dan saat itu aku mulai mengenalnya. Aku tahu dia mempunyai cewek lain di luar sekolah ini. Tapi who care? Aku cuma mengaguminya. Aku juga pernah bertemu dengan ceweknya. Manis. Itu kesan pertama yang aku lihat ceweknya untuk pertama kalinya. Karena kita di beban tugaskan pada suatu tugas yang kita berdua harus selesaikan. Kita berhasil menyelesaikan tugas dengan lancar atau ada cekcok di beberapa moment tidak penting. Satu kenangan yang masih hangat tersimpan di dalam memori ingatanku. Dia mengajakku menonton untuk pertama kalinya, meeskipun tidak berdua aku cukup senang. Kami ber-enam waktu itu. Kesenangan itu lenyap begitu saja seiring dengan jalannya waktu, kami mulai menjauh sedikit demi sedikit. Aku merasakan perubahan pada pribadinya. Dia menjadi orang lain. Ada orang lain di antara kami. Tapi akukan bukan siapa siapa untuk melarangnya. Mulai dari saat itu aku seperti tidak mengenalnya, begitupula dengan dia yang memang tidak peduli. Sampai pada kenaikan kelas kita tidak sekelas lagi hanya bertetangga. Aku tersenyum senang melihat papan pengumuman waktu itu. Dan pertama kali kita mulai mengobrol setelah liburan panjang hari raya.
"Mohon maaf lahir dan batin ya bel" itu kalimat pertamanya, aku sempat tertegun sesaat. Aku menyalami tangan yang terulur di hadapanku itu, kita sama sama tersenyum. Senyumnya masih sama. Manis. Dia duduk di kursi depanku dan terdiam. Hari ini tidak ada pelajaran hari pertama.
"Aku putus sama Lexa" dia memulai pembicaraan. Aku melihatbke arah matanya, mungkin ada aura penyesalan di sana. "Dia tahu aku sam Dini" kali ini aku benar benar terkesiap dengan pengakuan-nya. Dini itu kakak kelas yang bikin aku sama dia sediikit menjauh dulu. Aku tidak berkomentar. "Menurutmu?"
"Kalo mau di perjuangin, jangan pernah main main dengan perasaan. Jangan ada keburukan di antara kalin" ucapku mungkin sedikit menyindir perasaannya. Tapi itu benar kan? Dia tertegun untuk sesaat. Sepersekian detik kemudian dia tersenyum ke arahku.
"Ayo ke lab" seseorang menepuk bahunya dari belakang. Mungkin dia sedikit kaget dengan tepukan itu. Sepertinya banyak yang sedang ia pikirkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa banyak membantunya. Dia kembali tersenyum ke arahku lalu berlalu dari hadapanku.
Beberapa bulan kemudian angin itu berhembus keras ke arahku membawa berita yang mengejutkan. Meskipun sudah lama berita itu berlalu tapi tetap membuatku tertegun. Dia bersama kakakmkelas itu. Mulai dari itu aku tidak banyak perduli seperti dulu. Meskipun dia tidak bersama siapapun kali ini. Hanya beberapa urusan yang membuat kita masih dekat. Tapi aku tetap tidak perduli lagi.
Setelah kita benar benar kelas 3 tidak ada tanggung jawab yang berhubungan dengan dia. Hari hari berlalu aku dan dia hanya saling sapa kadang kala dia mulai bercerita panjang lebar. Pernah aku berfikir, apakan setelah ini kamu akan pergi lagi?. Tapi aku hanya membiarkan semuanya berlalu dengan apa adanya.
Banyak perubahan yang terjadi setahun belakngan dengan dia. Dia mulai berfikir yang tidak tidak dari cerita panjang lebarnya. Dia dekat dengan perempuan lain karena satu obsesi. Aku benar benar berfikir dia benar benar sudah tak sama. Beberapa kali aku membaca di salah satu akunnya yang sering banyak tulisan menghiasi, aku tahu siapa cewek itu. Kalian memang cocok dengan obsesi, kekurangn dan kelebihan di antara kalian. Itu kesimpulan yang aku dapat.
Setelah kelulusan tiba, sebenarnya kali ini aku berniat meminta foto dengannya hanya sebagai kenangan. Tapi saat aku mencarinya, dia sudah menghilang. Sedikit kecewa sih. Tapi tidak terlalu berpengaruh di hidupku. Sejak tiu kita tidak bertemu lagi. Aku tahu dia sudah kuliah di jurusan dan universitas favorit. Itu yang terakhir aku dengar dan baca darinya.
Aku naik ke motornya, lalu kamu berangkat. Sampai di tujuan sudah lumayan banyak yang datang. Aku duduk di antara sahabatku.
"Kamu sama Dirga?" Salah satu sahabatku membisikkan kalimat itu. Aku langsung menggeleng kuat. Acara demi acara berlalu sepertinya ada yang aneh. Beberapa orang melihatku tidak enak. Dalam perjalanan pulang dia mengajakku duduk di sebuah tempat yang sering di kunjungi para muda mudi.
"Di tanyan sama anak anak?" Dia membuka pembicaraan sambil mengaduk coffe late yang di pesan.
"Iya, emang aneh ya?"
"Mereka aja yang enggak bisa biasa"
"Asti mulai berubah" dia masih dengan cewek itu.
"Tapi lebih baik, kita udah enggak kayak dulu, yang kalo kata orang kita barbar sekarang kita tenang..........." dan cerita panjang lainnya malam ini. Malam ini benar benar kita habiskan bersama. Tentang sekolahnya, tetang ceweknya dan tentang keluarganya yang perlu di ceritakan padaku. Dan mulai saat itu aku menyadari tetang sesuatu hal. Aku hanya sahabat pendengar yang baik bagi dia. Malam itu aku tersenyum entah berarti apa.

TAAAADAAAA!!!!!

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
                     Entah kenapa hari ini aku merasa hari yang brbeda dengan hari hari yang lainnya.
Sebuah ninja merah dengan helm teropong berwarna merah juga, memasuki halaman parkir salah satu tempat makan yang ada di kotaku. Aku dan teman teman lain sengaja memesan rumah makan ini untuk acara yang kami buat mungkin untuk terakhir kalinya sebelum kita benar benar berpisah karena kesibukan kuliah.
"Rizal sya" panas menjalar di seluruh tubuhku begitu aku melihat dia yang selama ini tanpa kabar setelah wisuda kala itu. Aku tersenyum ke arahnya setelah dia membuka helm dan menyalamiku dan temen di sebelahku.
"Mik, aji mau kesini"
"Mau ikut buber juga?" Tanyaku heran
"Enggak, dia mau jemput aku, ntar di anterin ke sini lagi" aku melongo. Tak lama aji cowok marsya sudah di depan parkiran dan marsya berjalan menjauh, hanya tinggal aku dan rizal di parkiran. Kebiasaan anak anak selalu aja telat.
"Kamu sekarang sama siapa?" Kalimat pertama pembuka kebisuan di antara kami.
"Lagi sendiri. Kamu pasti sudah" aku mengerti arah pembicaraan ini. Dia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku.
"Masuk mana?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Belum, masih nunggu pendaftaran yang lain, kamu mana?"
"Nunggu pengumuman. Gagal dimana sih?" Aku penasaran dari awal aku mendengar kabar yang tidak terlalu jelas dari orang lain. Akhirnya cerita panjang lebar pun aku dengar kan.
"Hai, cuma kalian berdua yang udah dateng?" Ria tersenyum nakal melihatku asik mengobrol.
"Tadi sih udah ada marsya cuma dia lagi kencan, hehe. Ntar balik kok" aku menunjuk motor marsya.
"Kalian balikan?" Aku tersedak mendengar kalimat itu.
"Ya enggak lah ri" lalu kami sama sama tertawa. Tak lama banyak anak yang mulai berdatangan dan memesan makanan.
Mungkin sekitar dua tahun lalu rasa itu mulai berkembang.
Hape ku berbunyi, sebuah sms masuk.
"Mik, ini rizal. Punya nomernya eka?" Itu sms pertama kali entah darimana dia mendapatkan nomerku. Aku membalas hanya memberikan sederet nomer.
"Thx" hanya itu balasan yang aku terima.
Lama kelamaan entah mengapa dia sering curhat mengenai eka ke padaku. Aku menaggapinya sesuai dengan sikapku. Cuek. Ya, aku duu memang terlalu cuek. Kalo dia tanyak ya aku jawab. Minta pendapat ya di kasih. Yah itulah aku dulu.
Hingga akhirnya hari itu dia menyatakan sesuatu di luar dugaanku.
"Bukannya kamu suka sama eka?" Tanyaku lewat sms waktu itu.
"Semuanya sudah berubah" aku tidak membalas sms terakhir itu. Mungkin tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Hingga akhirnya dia adalah orang yang pertama kali meluluh lantakkan tembok yang aku bangun di dalam batin ini. Dan terbalaskan dengan cara yang berbeda. Ini pengalaman pertama. Aku menjalaninya dengan cara yang baik. Hingga 8 hari itu berlalu.
"Udahan yuk?" Aku mengirim pesan itu ke rizal. Entah apa yang aku fikirkan waktu itu.
"Kok gitu?"
"Entahlah, kayak ada yang bebeda dengan semuanya" dari situ sms ku mulai tidak ada balasan.
Hari masuk sekolah setelah libur yang sangat panjang. Aku seperti lari dari kenyataan. Hari pertama masuk sekolah, Masuk kelas hanya sekedar menaruh tas dan ke kelas tetangga. Sahabatku pada saat itu. Aku melihatnya duduk di bangku tengah sedang menunduk.
Hari hari berlalu menjadi minggu, dan bulan.
Hari itu aku suasana antara aku dan rizal mulai mencair. Canda tawa ternyata masih hangat di telingaku. Entah kenapa panas langung menjalar ke badanku begitu aku tau rizal sudah bersama dengan yang lain, yang aku dengar dari marsya, tempat curhatku. Apa aku masih cemburu? Apa aku masih sayang?. Mulai saat itu aku mulai menjadi manusia cuek yang super pendiam.
Kenaikan kelas 3. Aku masih satu kelas dengan rizal.
Untuk yang kedua kalinya aku kembali ke hatinya. Kali ini aku ingin berhati hati. Aku ingin kali ini semuanya berbeda. Berjalan berbulan bulan akhirnya aku tahu dia masih memakai benda itu. Rokok. Aku benci benda itu. Sepele sih bagi semua orang. Konyol. Aku memang berfikir ini kan hal sepele. Tapi kalo memang sudah prinsip hidup? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Akhirnya tembok yang runtuh telah aku bangun di dalam batinku. Karena aku ingin konsentrasi dengn UN dan segala macam hl yang harus aku jalani, aku lupa dengan semua cerita lama itu.
Hingga akhirnya 1 minggu yang lalu, ada perasaan aneh berdesir di antara ruang batinku. Aku merindukannya. Aku menangis dalam diam. Tidak ada yang tahu. Aku cerita ke marsya, sedikit tenang.
Hingga akhirnya hari ini aku bertemu dengannya secara langsung. Dan rindu itu terobati dengan sendirinya. Simple right?

Aturan main

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, June 8, 2013
kalau kamu suka sesuatu karena kamu pikir orang lain bakal suka, sudah pasti takkan ada yang suka.
banyak pintu di dunia yang tertutup jadi kalalu kamu temukan 1 pintu yang membuat mu ingin masuk, kamu sebaiknya mengetuknya dengan menarik.
semua yang menurutmu penting... itu tidak penting dan semua yang menurutmu tidak penting itu penting.
bersandarlah pada itu semua.. artinya hasil tidaklah penting. yang penting adalah kamu ada saat itu. entah itu baik atau buruk

waktu tidak akan bisa di putar

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
A: apakah kamu pernah berharap kamu bisa kembali seperti ke waktu lain?
B: saya tidak keberatan mendaptkan hidup seperti ini.
A: jika anda di berikan satu kesempatan untuk mengulang sesuatu dalam hidup anda, apa itu?
B: tidak ada.
A: benarkah?
B: iya
A: tapi apakah anda pernah membuat kesalahan besar? atau yang dapat mengubah hidup anda? bagaimana dengan itu?
B: aku tahu aku banyak membuat kesalahan tapi aku tidak menyesal berbuat itu
A: bagaimana bisa?
B: karena jika saya tidak berbuat sepeti itu. saya tidak akan mempelajari bagaimana membuat hal hal yang benar

sebuah pilihan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on
tarik nafas dan semuanya akan baik baik saja
saat rasa penasaran terjawab
saat kenyataan di temukan
di atas ingatan yang telah lalu
semuanya terasa berjalan cepat
pilihan kembali atau tetap
aku akan tetap pada pendirian
terasa asing di telinga
terasa kaku untuk berjalan
kesalahan bukan berarti penyesalan
kesalahan saat membuka hati
saat semuanya menjadi baik baik saja
saat waktu yang tepat untuk menjad seseorang
orang yang akan di mintai pertanggung jawaban
seutas tali telah terbentuk dengan ucapan
sebentuk harapan telah bersinar di ujung jalan kehidupan
seseorang membuatnya dengan baik
janji dalam perkataan telah terucap
itu hanya ucapan seorang manusia labil
mereka menyebutnya seperti itu
hanya karena kita masih terlalu lemah untuk percaya
kita masih belum berfikir dewasa
apa yang salah?
tidak ada kata salah selama mencoba
hanya jatuh yang kita dapat
atau berdiri tegak di atas tempat padat
dan selalu bisa berdiri dalam diam
terpuruk
berikir panjang untuk lebih baik
masa kelam terlewatkan
hanya berbuat untuk lebih baik
tapi segalanya terasa aneh hanya berjalan sendiri
di masa yang kita anggap semuanya akan baik baik saja bila bersamanya.

kita adalah sebuah keramik yang berharga

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, May 4, 2013
keramik berawal dari sebuh tanah liat yang tidak berarga. seseorang mengambilnya untuk menjadikannya lebih berharga. awal terbentuknya dengan cara memukul dan memutarnya. setelah terbentuk sebuah kreasi di dalamnya. agar keras lalu di jemur dan di hias untuk memperindah lalu terjual mahal. seperti halnya kita awalnya kita hanyalah sebuah seseorang yang tidak tahu akan menjadi apa. berawal dari kita terinjak tidak di pedulikan, tidak berharga. lalu kita berinisiatif untuk menjadi lebih berharga. dengan jalan tidak terlalu mudah untuk digapai. kadang terjatuh, caci makian banyak kita dengar. dari situ kita dapat introspeksi diri menjadi yang lebih baik. menilai diri sendiri. lalu kita berjalan kembali untuk lebih baik membentuk  karakter menjadi seseorang yang lebih baik. dan kita akan berharga untuk semua  orang.
← Rewind      
hy readers! my real name Nisrina Nabillah. you can call me Nisrina or bella. 17years old. Muhammadiyah 2 Senior High School. just ordinary girl. enjoy guys. :)
This site talk about me, my friends, my mind, my life, talk about life, lofe, and laugh.
Put links to your affiliates/link exchanges
just me and my self.
Contact form here, maybe?