cahaya sesaat tapi menghangatkan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 1, 2014


Dering di ponsel membuatku terbangun. Nomer tidak di kenal. Aku membalas. Dengan menanyakan dengan siapa.
Ternyata Putra, anak yang ikut ngerayain tahun baru tadi malam di rumah seniorku, anak satu fakultas denganku tapi tidak satu jurusan.
Dia terus sms aku menanyaan pertanyaan klasik sih, seperti sudah makan, sudah shalat,lagi apa. Dan pertanyaan lainnya. Asik juga anaknya, tapi mungkin aku terlalu cuek karena ada beberapa sms yang enggak aku balas.
Empat hari berlalu. Sebuah sms masuk di siang hari ketika aku mencoba untuk beristirahat. Dari Putra juga
“Actually when we met at the first time, and at the same time too i feel if i’m fallin in love with you in first looking, i’m sorry maybe it too fast to you, sorry”
Seketika aku terkagum dengan isi sms itu, memang semuanya terlalu cepat berjalan. Tapi dia juga mengerti apa yang akan di lakukan. Sms berjalan santai sejak Putra mengirim sms seperti itu. Dengan keadaan masih UAS Putra memilih untuk konsentrasi dengan UAS dulu, selesai UAS dia berjanji aku membicarakan dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari hari berlalu, Putra terus sms dan aku membalasnya dengan seperlunya. Dia juga sering duduk di ruang Himpunan karena aku juga sering di situ. Tapi kita enggak pernah ngobrol. Hanya sekedar lewat saja. Tapi sebenernya aku pengen ngajak ngobrol saat dia sedang diam. Tapi dia lebih sering mainan di laptopnya. Atau sekedar duduk diam.
Hari jum’at tiba, selesai UAS aku cepat meninggalkan kampus menuju ke kost salah satu temanku. Putra mencariku. Kali ini aku beralasan seperti tidak ada apa apa. Tapi aku tau dia sebal. Aku belom pernah mengalami seperti ini. Entah kenapa aku jadi menghindar.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke kampus karena ada test bahasa inggris. Putra mencariku lagi tapi aku beralasan tidak enak badan.
Dia terus menghubungiku. Aku mulai suka dengannya. Meskipun sepertinya aku merusak rencananya. Aku tau dia sedikit kecewa. Aku telah banyak mengeluarkan ke egoisanku, tapi Putra tetep menghubungiku, membuatku nyaman dengannya. Aku benar benar mulai suka dengannya.
Dia pernah menanyaiku lebih memilih apel atau anggur. Ini alasannya. Kalo apel berarti lebih milih di apelin, kalo anggur berarti lebih milih di anggurin. Kreatif juga. Hehe.
Hari hari terus berlalu. Sebuah sms kembali masuk dan membuatku tercengang kembali.
“i wanna love you so right, so pure, so strong and crazy for you”
Aku mulai bercanda dengannya. Sebenarnya bukan hal yang baik sih. Tapi entah kenapa aku hanya ingin tau seberapa besar dia serius. Dia berjanji tidak akan menyakitiku dengan berbagai alasan. Dia juga bertanya kapan “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita”. Aku ingin menjawabnya sekarang. Tapi Putra tidak ingin mendengarnya melalui pesan singkat. Dia ingin langsung berbicara kepadaku.  Dia siap menunggu saat yang tepat. Aku juga akan menunggu saat yang tepat, hari itu pasti akan datang. Keyakinan itu ada di antara aku dan Putra. Meskipun itu lama kita tahu itu akan terjadi. Aku senang mendengarnya. Dan mungkin aku merasakan apa yang ia rasakan.
Tak lama, aku berlibur bersama teman terdekatku di kampus ke sebuah pantai. Ini kebiasaan burukku. Jika aku sedang berlibur, aku tidak ingin di ganggu dengan alasan apapun, agar aku bisa merasakan dan menikmati  apa yang aku dapat selama berlibur.
Sampai di rumah keesokan harinya aku membuka hape dan banyak sms dari Putra dia marah marah karena sms nya enggak di balas. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dia khawatir. Dan dia marah. Aku meminta maaf terus menerus. Hingga tak lama, suasana kembali mencair kembali.
Tapi dia membalas apa yang aku lakukan keesokan harinya. Dia tidak membalas sms ku selama dua hari, hari kedua dia membalas sms ku dengan canda tawa kembali. Aku menanyai nya tentang masalah kemarin dia kecewa, marah atau nyesel. Dia jawab bukan dari ketiganya. Aku senang dia bukan tipe orang yang mudah marah karena sifatku. Aku senang dia bisa mengerti kebiasaan burukku ini. Aku berfikir dia lebih baik dari orang yang pernah ada di hidupku selama ini. Dia bisa mengerti ke egoisanku, dia bisa mengerti cuek ku dan dia sangat perhatian.
Dia pernah menanyaiku soal pendidikan.
Aku mulai tidak cuek dan selalu membalas sms dia, tidak seperti waktu pertama kali. Aku benar benar luluh di buatnya.
“i love you, not because of what you have but because of what i feels i care you, not because you need care but because i want to and for all that i’m fallin in love with you”
Dia mengirimiku sms itu, memyakinkanku, membuatku percaya semua apa yang akan di lakukannya,  membuatku benar benar nyaman terhadapnya. Meyakinkanku dia enggak akan pernah membuatku sakit meskipun itu sedikit. Dia membuatku sangat yakin dia menjadi yang terbaik di hidupku saat ini.
Aku memberitahunya tentang sifatku yang enggak mudah suka atau sayang sama orang, tapi kalo udah sayang aku susah buat lupa. Dia seperti mendapat secerah cahaya di tengah usahanya mencairkan kebekuanku. Aku bernafas lega dia bisa menerimaku apa adanya.
Enggak lama dari itu ada yang berubah dari dia. Dunia terasa terbalik. Dia yang menjadi cuek aku yang selalu menanyainya. Dan sms di bales lama banget. Dia mengajakku keluar ke sebuah acara, tapi aku tolak dengan alasan groundnya enggak aku suka, dan dia mengajak ke malang. Tapi aku sudah punya janji dengan teman teman lain. Dia berubah.
Suatu hari aku bertemu dia di kampus, tidak ada say hay. Cuma sekedar lewat saja. Aku meyakinkan diriku, dia mungkin masih kaget. Ada yang berbeda dengan semuanya. Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sibuk sehingga membalas smsku lama.
Tapi lama kelamaan aku membuka salah satu sosmednya dia benar benar berubah. Putra berubah.
Aku mengirim dia pesan berterimaksih atas janji, perhatian dan sayang yang pernah dia bilang selama ini. Makasih atas keyakinan yang pernah dia kasih ke aku. Bikin aku nyaman sama dia. Malam itu aku benar benar menangis membaca salah satu sosmednya Putra. Ada apa dengan dia. Mana sayang dan keyakinan yang selalu dia kasih ke aku selama ini. Mana keyakinana kalo “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita” seperti lenyap di telan hujan.
Setelah itu salah satu kakak ku menelfon menanyai keadaanku. Enggak banyak yang bisa aku ceritakan ke dia tapi aku tau kakak ku mengerti apa yang terjadi. Dia meminta ku menemuinya di kampus besok. Setelah telfon treputus ada sms dari Putra. Dia akan mejelaskan besok di kampus. Aku mengiyakan permintaannya.
Besoknya aku di kampus seharian aku tidak bertemu dengan Putra. Aku tau dia di kampus karena kakak ku sempat ngobrol sama dia di kantin. Tapi dia tidak bilang dia di kantin. Hari itu aku benar benar kecewa berat dengan Putra. Malamnya sepulang dari kampus aku kembali menangis di dalam kamar sendiri.
Aku mengirim dia pesan lagi meminta penjelasan. Aku sudah pernah bilang ke Putra, sekali aku sayang sama orang aku susah buat lupa dengan perasaan itu. Dan sekarang aku bener bener sayang sama Putra. Tapi dia pergi tanpa alasan yang jelas.
Dan hari hari ini aku mencoba berusaha tersenyum dan mengembalikan hidupku sebelum aku bertemu dengan Putra. Terimakasih untuk kesempatan merasakan keyakinan dan kasih sayang dari kamu. Secepat ini kah. Semudah itu kamu memulai dan mengakhiri apa yang udah kamu mulai? Sampe sekarang aku tidak mengerti alasan di balik ini semua.

Comments to cahaya sesaat tapi menghangatkan


Post a Comment

← Rewind      

cahaya sesaat tapi menghangatkan

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Saturday, February 1, 2014


Dering di ponsel membuatku terbangun. Nomer tidak di kenal. Aku membalas. Dengan menanyakan dengan siapa.
Ternyata Putra, anak yang ikut ngerayain tahun baru tadi malam di rumah seniorku, anak satu fakultas denganku tapi tidak satu jurusan.
Dia terus sms aku menanyaan pertanyaan klasik sih, seperti sudah makan, sudah shalat,lagi apa. Dan pertanyaan lainnya. Asik juga anaknya, tapi mungkin aku terlalu cuek karena ada beberapa sms yang enggak aku balas.
Empat hari berlalu. Sebuah sms masuk di siang hari ketika aku mencoba untuk beristirahat. Dari Putra juga
“Actually when we met at the first time, and at the same time too i feel if i’m fallin in love with you in first looking, i’m sorry maybe it too fast to you, sorry”
Seketika aku terkagum dengan isi sms itu, memang semuanya terlalu cepat berjalan. Tapi dia juga mengerti apa yang akan di lakukan. Sms berjalan santai sejak Putra mengirim sms seperti itu. Dengan keadaan masih UAS Putra memilih untuk konsentrasi dengan UAS dulu, selesai UAS dia berjanji aku membicarakan dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari hari berlalu, Putra terus sms dan aku membalasnya dengan seperlunya. Dia juga sering duduk di ruang Himpunan karena aku juga sering di situ. Tapi kita enggak pernah ngobrol. Hanya sekedar lewat saja. Tapi sebenernya aku pengen ngajak ngobrol saat dia sedang diam. Tapi dia lebih sering mainan di laptopnya. Atau sekedar duduk diam.
Hari jum’at tiba, selesai UAS aku cepat meninggalkan kampus menuju ke kost salah satu temanku. Putra mencariku. Kali ini aku beralasan seperti tidak ada apa apa. Tapi aku tau dia sebal. Aku belom pernah mengalami seperti ini. Entah kenapa aku jadi menghindar.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke kampus karena ada test bahasa inggris. Putra mencariku lagi tapi aku beralasan tidak enak badan.
Dia terus menghubungiku. Aku mulai suka dengannya. Meskipun sepertinya aku merusak rencananya. Aku tau dia sedikit kecewa. Aku telah banyak mengeluarkan ke egoisanku, tapi Putra tetep menghubungiku, membuatku nyaman dengannya. Aku benar benar mulai suka dengannya.
Dia pernah menanyaiku lebih memilih apel atau anggur. Ini alasannya. Kalo apel berarti lebih milih di apelin, kalo anggur berarti lebih milih di anggurin. Kreatif juga. Hehe.
Hari hari terus berlalu. Sebuah sms kembali masuk dan membuatku tercengang kembali.
“i wanna love you so right, so pure, so strong and crazy for you”
Aku mulai bercanda dengannya. Sebenarnya bukan hal yang baik sih. Tapi entah kenapa aku hanya ingin tau seberapa besar dia serius. Dia berjanji tidak akan menyakitiku dengan berbagai alasan. Dia juga bertanya kapan “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita”. Aku ingin menjawabnya sekarang. Tapi Putra tidak ingin mendengarnya melalui pesan singkat. Dia ingin langsung berbicara kepadaku.  Dia siap menunggu saat yang tepat. Aku juga akan menunggu saat yang tepat, hari itu pasti akan datang. Keyakinan itu ada di antara aku dan Putra. Meskipun itu lama kita tahu itu akan terjadi. Aku senang mendengarnya. Dan mungkin aku merasakan apa yang ia rasakan.
Tak lama, aku berlibur bersama teman terdekatku di kampus ke sebuah pantai. Ini kebiasaan burukku. Jika aku sedang berlibur, aku tidak ingin di ganggu dengan alasan apapun, agar aku bisa merasakan dan menikmati  apa yang aku dapat selama berlibur.
Sampai di rumah keesokan harinya aku membuka hape dan banyak sms dari Putra dia marah marah karena sms nya enggak di balas. Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dia khawatir. Dan dia marah. Aku meminta maaf terus menerus. Hingga tak lama, suasana kembali mencair kembali.
Tapi dia membalas apa yang aku lakukan keesokan harinya. Dia tidak membalas sms ku selama dua hari, hari kedua dia membalas sms ku dengan canda tawa kembali. Aku menanyai nya tentang masalah kemarin dia kecewa, marah atau nyesel. Dia jawab bukan dari ketiganya. Aku senang dia bukan tipe orang yang mudah marah karena sifatku. Aku senang dia bisa mengerti kebiasaan burukku ini. Aku berfikir dia lebih baik dari orang yang pernah ada di hidupku selama ini. Dia bisa mengerti ke egoisanku, dia bisa mengerti cuek ku dan dia sangat perhatian.
Dia pernah menanyaiku soal pendidikan.
Aku mulai tidak cuek dan selalu membalas sms dia, tidak seperti waktu pertama kali. Aku benar benar luluh di buatnya.
“i love you, not because of what you have but because of what i feels i care you, not because you need care but because i want to and for all that i’m fallin in love with you”
Dia mengirimiku sms itu, memyakinkanku, membuatku percaya semua apa yang akan di lakukannya,  membuatku benar benar nyaman terhadapnya. Meyakinkanku dia enggak akan pernah membuatku sakit meskipun itu sedikit. Dia membuatku sangat yakin dia menjadi yang terbaik di hidupku saat ini.
Aku memberitahunya tentang sifatku yang enggak mudah suka atau sayang sama orang, tapi kalo udah sayang aku susah buat lupa. Dia seperti mendapat secerah cahaya di tengah usahanya mencairkan kebekuanku. Aku bernafas lega dia bisa menerimaku apa adanya.
Enggak lama dari itu ada yang berubah dari dia. Dunia terasa terbalik. Dia yang menjadi cuek aku yang selalu menanyainya. Dan sms di bales lama banget. Dia mengajakku keluar ke sebuah acara, tapi aku tolak dengan alasan groundnya enggak aku suka, dan dia mengajak ke malang. Tapi aku sudah punya janji dengan teman teman lain. Dia berubah.
Suatu hari aku bertemu dia di kampus, tidak ada say hay. Cuma sekedar lewat saja. Aku meyakinkan diriku, dia mungkin masih kaget. Ada yang berbeda dengan semuanya. Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sibuk sehingga membalas smsku lama.
Tapi lama kelamaan aku membuka salah satu sosmednya dia benar benar berubah. Putra berubah.
Aku mengirim dia pesan berterimaksih atas janji, perhatian dan sayang yang pernah dia bilang selama ini. Makasih atas keyakinan yang pernah dia kasih ke aku. Bikin aku nyaman sama dia. Malam itu aku benar benar menangis membaca salah satu sosmednya Putra. Ada apa dengan dia. Mana sayang dan keyakinan yang selalu dia kasih ke aku selama ini. Mana keyakinana kalo “aku” dan “kamu” akan menjadi “kita” seperti lenyap di telan hujan.
Setelah itu salah satu kakak ku menelfon menanyai keadaanku. Enggak banyak yang bisa aku ceritakan ke dia tapi aku tau kakak ku mengerti apa yang terjadi. Dia meminta ku menemuinya di kampus besok. Setelah telfon treputus ada sms dari Putra. Dia akan mejelaskan besok di kampus. Aku mengiyakan permintaannya.
Besoknya aku di kampus seharian aku tidak bertemu dengan Putra. Aku tau dia di kampus karena kakak ku sempat ngobrol sama dia di kantin. Tapi dia tidak bilang dia di kantin. Hari itu aku benar benar kecewa berat dengan Putra. Malamnya sepulang dari kampus aku kembali menangis di dalam kamar sendiri.
Aku mengirim dia pesan lagi meminta penjelasan. Aku sudah pernah bilang ke Putra, sekali aku sayang sama orang aku susah buat lupa dengan perasaan itu. Dan sekarang aku bener bener sayang sama Putra. Tapi dia pergi tanpa alasan yang jelas.
Dan hari hari ini aku mencoba berusaha tersenyum dan mengembalikan hidupku sebelum aku bertemu dengan Putra. Terimakasih untuk kesempatan merasakan keyakinan dan kasih sayang dari kamu. Secepat ini kah. Semudah itu kamu memulai dan mengakhiri apa yang udah kamu mulai? Sampe sekarang aku tidak mengerti alasan di balik ini semua.

Comments to cahaya sesaat tapi menghangatkan


Post a Comment

← Rewind      
hy readers! my real name Nisrina Nabillah. you can call me Nisrina or bella. 17years old. Muhammadiyah 2 Senior High School. just ordinary girl. enjoy guys. :)
This site talk about me, my friends, my mind, my life, talk about life, lofe, and laugh.
Put links to your affiliates/link exchanges
just me and my self.
Contact form here, maybe?