Dering di ponsel membuatku terbangun. Nomer tidak di kenal. Aku membalas.
Dengan menanyakan dengan siapa.
Ternyata Putra, anak yang ikut ngerayain tahun baru tadi malam di rumah
seniorku, anak satu fakultas denganku tapi tidak satu jurusan.
Dia terus sms aku menanyaan pertanyaan klasik sih, seperti sudah makan,
sudah shalat,lagi apa. Dan pertanyaan lainnya. Asik juga anaknya, tapi mungkin
aku terlalu cuek karena ada beberapa sms yang enggak aku balas.
Empat hari berlalu. Sebuah sms masuk di siang hari ketika aku mencoba untuk
beristirahat. Dari Putra juga
“Actually when we met at the first time, and at the same time too i feel if
i’m fallin in love with you in first looking, i’m sorry maybe it too fast to
you, sorry”
Seketika aku terkagum dengan isi sms itu, memang semuanya terlalu cepat
berjalan. Tapi dia juga mengerti apa yang akan di lakukan. Sms berjalan santai
sejak Putra mengirim sms seperti itu. Dengan keadaan masih UAS Putra memilih
untuk konsentrasi dengan UAS dulu, selesai UAS dia berjanji aku membicarakan
dan menjelaskan apa yang terjadi.
Hari hari berlalu, Putra terus sms dan aku membalasnya dengan seperlunya.
Dia juga sering duduk di ruang Himpunan karena aku juga sering di situ. Tapi
kita enggak pernah ngobrol. Hanya sekedar lewat saja. Tapi sebenernya aku
pengen ngajak ngobrol saat dia sedang diam. Tapi dia lebih sering mainan di
laptopnya. Atau sekedar duduk diam.
Hari jum’at tiba, selesai UAS aku cepat meninggalkan kampus menuju ke kost
salah satu temanku. Putra mencariku. Kali ini aku beralasan seperti tidak ada
apa apa. Tapi aku tau dia sebal. Aku belom pernah mengalami seperti ini. Entah
kenapa aku jadi menghindar.
Sekitar jam 2 siang, aku kembali ke kampus karena ada test bahasa inggris. Putra
mencariku lagi tapi aku beralasan tidak enak badan.
Dia terus menghubungiku. Aku mulai suka dengannya. Meskipun sepertinya aku
merusak rencananya. Aku tau dia sedikit kecewa. Aku telah banyak mengeluarkan
ke egoisanku, tapi Putra tetep menghubungiku, membuatku nyaman dengannya. Aku
benar benar mulai suka dengannya.
Dia pernah menanyaiku lebih memilih apel atau anggur. Ini alasannya. Kalo apel
berarti lebih milih di apelin, kalo anggur berarti lebih milih di anggurin. Kreatif
juga. Hehe.
Hari hari terus berlalu. Sebuah sms kembali masuk dan membuatku tercengang
kembali.
“i wanna love you so right, so pure, so strong and crazy for you”
Aku mulai bercanda dengannya. Sebenarnya bukan hal yang baik sih. Tapi
entah kenapa aku hanya ingin tau seberapa besar dia serius. Dia berjanji tidak
akan menyakitiku dengan berbagai alasan. Dia juga bertanya kapan “aku” dan
“kamu” akan menjadi “kita”. Aku ingin menjawabnya sekarang. Tapi Putra tidak
ingin mendengarnya melalui pesan singkat. Dia ingin langsung berbicara
kepadaku. Dia siap menunggu saat yang
tepat. Aku juga akan menunggu saat yang tepat, hari itu pasti akan datang.
Keyakinan itu ada di antara aku dan Putra. Meskipun itu lama kita tahu itu akan
terjadi. Aku senang mendengarnya. Dan mungkin aku merasakan apa yang ia
rasakan.
Tak lama, aku berlibur bersama teman terdekatku di kampus ke sebuah pantai.
Ini kebiasaan burukku. Jika aku sedang berlibur, aku tidak ingin di ganggu
dengan alasan apapun, agar aku bisa merasakan dan menikmati apa yang aku dapat selama berlibur.
Sampai di rumah keesokan harinya aku membuka hape dan banyak sms dari Putra
dia marah marah karena sms nya enggak di balas. Aku mencoba menjelaskan apa
yang terjadi. Dia khawatir. Dan dia marah. Aku meminta maaf terus menerus.
Hingga tak lama, suasana kembali mencair kembali.
Tapi dia membalas apa yang aku lakukan keesokan harinya. Dia tidak membalas
sms ku selama dua hari, hari kedua dia membalas sms ku dengan canda tawa
kembali. Aku menanyai nya tentang masalah kemarin dia kecewa, marah atau
nyesel. Dia jawab bukan dari ketiganya. Aku senang dia bukan tipe orang yang
mudah marah karena sifatku. Aku senang dia bisa mengerti kebiasaan burukku ini.
Aku berfikir dia lebih baik dari orang yang pernah ada di hidupku selama ini.
Dia bisa mengerti ke egoisanku, dia bisa mengerti cuek ku dan dia sangat
perhatian.
Dia pernah menanyaiku soal pendidikan.
Aku mulai tidak cuek dan selalu membalas sms dia, tidak seperti waktu
pertama kali. Aku benar benar luluh di buatnya.
“i love you, not because of what you have but because of what i feels i
care you, not because you need care but because i want to and for all that i’m
fallin in love with you”
Dia mengirimiku sms itu, memyakinkanku, membuatku percaya semua apa yang
akan di lakukannya, membuatku benar
benar nyaman terhadapnya. Meyakinkanku dia enggak akan pernah membuatku sakit
meskipun itu sedikit. Dia membuatku sangat yakin dia menjadi yang terbaik di
hidupku saat ini.
Aku memberitahunya tentang sifatku yang enggak mudah suka atau sayang sama
orang, tapi kalo udah sayang aku susah buat lupa. Dia seperti mendapat secerah
cahaya di tengah usahanya mencairkan kebekuanku. Aku bernafas lega dia bisa
menerimaku apa adanya.
Enggak lama dari itu ada yang berubah dari dia. Dunia terasa terbalik. Dia yang
menjadi cuek aku yang selalu menanyainya. Dan sms di bales lama banget. Dia mengajakku
keluar ke sebuah acara, tapi aku tolak dengan alasan groundnya enggak aku suka,
dan dia mengajak ke malang. Tapi aku sudah punya janji dengan teman teman lain.
Dia berubah.
Suatu hari aku bertemu dia di kampus, tidak ada say hay. Cuma sekedar lewat
saja. Aku meyakinkan diriku, dia mungkin masih kaget. Ada yang berbeda dengan
semuanya. Awalnya aku hanya berfikir mungkin dia sibuk sehingga membalas smsku
lama.
Tapi lama kelamaan aku membuka salah satu sosmednya dia benar benar
berubah. Putra berubah.
Aku mengirim dia pesan berterimaksih atas janji, perhatian dan sayang yang
pernah dia bilang selama ini. Makasih atas keyakinan yang pernah dia kasih ke
aku. Bikin aku nyaman sama dia. Malam itu aku benar benar menangis membaca
salah satu sosmednya Putra. Ada apa dengan dia. Mana sayang dan keyakinan yang
selalu dia kasih ke aku selama ini. Mana keyakinana kalo “aku” dan “kamu” akan
menjadi “kita” seperti lenyap di telan hujan.
Setelah itu salah satu kakak ku menelfon menanyai keadaanku. Enggak banyak
yang bisa aku ceritakan ke dia tapi aku tau kakak ku mengerti apa yang terjadi.
Dia meminta ku menemuinya di kampus besok. Setelah telfon treputus ada sms dari
Putra. Dia akan mejelaskan besok di kampus. Aku mengiyakan permintaannya.
Besoknya aku di kampus seharian aku tidak bertemu dengan Putra. Aku tau dia
di kampus karena kakak ku sempat ngobrol sama dia di kantin. Tapi dia tidak
bilang dia di kantin. Hari itu aku benar benar kecewa berat dengan Putra. Malamnya
sepulang dari kampus aku kembali menangis di dalam kamar sendiri.
Aku mengirim dia pesan lagi meminta penjelasan. Aku sudah pernah bilang ke Putra,
sekali aku sayang sama orang aku susah buat lupa dengan perasaan itu. Dan sekarang
aku bener bener sayang sama Putra. Tapi dia pergi tanpa alasan yang jelas.
Dan hari hari ini aku mencoba berusaha tersenyum dan mengembalikan hidupku
sebelum aku bertemu dengan Putra. Terimakasih untuk kesempatan merasakan keyakinan
dan kasih sayang dari kamu. Secepat ini kah. Semudah itu kamu memulai dan
mengakhiri apa yang udah kamu mulai? Sampe sekarang aku tidak mengerti alasan
di balik ini semua.
Post a Comment