Tidak Lebih Dari Itu

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Friday, August 2, 2013
Suatu sore yang cerah, aku seperti melihat keajaiban di depan rumahku saat aku tahu dia tiba tiba datang ke rumah. Sore ini aku memang ada acara kumpul dengan teman lama termasuk dia. Tapi aku tidak memintanya untuk menjemputku. Aku tersenyum ke arahnya
"Hi, kok di sini?"
"Kamu enggak ikut ngumpul hari ini?" Suaranya masih ketus seperti yang dulu pertama kali aku kenal dengannya.
"Ikut, tumben aja mau ke rumah"
"Aku udah sms kamu tadi" aku teringat tentang sesuatu, dimana hapeku ya? Ini kebiasaan lamaku, hape entah kemana.
"Tunggu bentar ya, aku ambil tas" dia tersenyum ke arahku.
Ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia setelah kelulusan SMA, 8 bulan yang lalu. Dan setelah aku terlibat berbagai konflik batin dan konflik fisik dengan dia. Dia adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta di masa masa indah menjalani SMA. Aku mengenalnya karena kita satu kelas dan secara kebetulan extra kita sama. Hari hari berlalu menjadi minggu yang indah menurutku. Bercerita panjang lebar dengan topik apapun itu, canda tawa keluar dari masing masing mulut kami, atau perasaan sedih memikirkan segalanya. Dan saat itu aku mulai mengenalnya. Aku tahu dia mempunyai cewek lain di luar sekolah ini. Tapi who care? Aku cuma mengaguminya. Aku juga pernah bertemu dengan ceweknya. Manis. Itu kesan pertama yang aku lihat ceweknya untuk pertama kalinya. Karena kita di beban tugaskan pada suatu tugas yang kita berdua harus selesaikan. Kita berhasil menyelesaikan tugas dengan lancar atau ada cekcok di beberapa moment tidak penting. Satu kenangan yang masih hangat tersimpan di dalam memori ingatanku. Dia mengajakku menonton untuk pertama kalinya, meeskipun tidak berdua aku cukup senang. Kami ber-enam waktu itu. Kesenangan itu lenyap begitu saja seiring dengan jalannya waktu, kami mulai menjauh sedikit demi sedikit. Aku merasakan perubahan pada pribadinya. Dia menjadi orang lain. Ada orang lain di antara kami. Tapi akukan bukan siapa siapa untuk melarangnya. Mulai dari saat itu aku seperti tidak mengenalnya, begitupula dengan dia yang memang tidak peduli. Sampai pada kenaikan kelas kita tidak sekelas lagi hanya bertetangga. Aku tersenyum senang melihat papan pengumuman waktu itu. Dan pertama kali kita mulai mengobrol setelah liburan panjang hari raya.
"Mohon maaf lahir dan batin ya bel" itu kalimat pertamanya, aku sempat tertegun sesaat. Aku menyalami tangan yang terulur di hadapanku itu, kita sama sama tersenyum. Senyumnya masih sama. Manis. Dia duduk di kursi depanku dan terdiam. Hari ini tidak ada pelajaran hari pertama.
"Aku putus sama Lexa" dia memulai pembicaraan. Aku melihatbke arah matanya, mungkin ada aura penyesalan di sana. "Dia tahu aku sam Dini" kali ini aku benar benar terkesiap dengan pengakuan-nya. Dini itu kakak kelas yang bikin aku sama dia sediikit menjauh dulu. Aku tidak berkomentar. "Menurutmu?"
"Kalo mau di perjuangin, jangan pernah main main dengan perasaan. Jangan ada keburukan di antara kalin" ucapku mungkin sedikit menyindir perasaannya. Tapi itu benar kan? Dia tertegun untuk sesaat. Sepersekian detik kemudian dia tersenyum ke arahku.
"Ayo ke lab" seseorang menepuk bahunya dari belakang. Mungkin dia sedikit kaget dengan tepukan itu. Sepertinya banyak yang sedang ia pikirkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa banyak membantunya. Dia kembali tersenyum ke arahku lalu berlalu dari hadapanku.
Beberapa bulan kemudian angin itu berhembus keras ke arahku membawa berita yang mengejutkan. Meskipun sudah lama berita itu berlalu tapi tetap membuatku tertegun. Dia bersama kakakmkelas itu. Mulai dari itu aku tidak banyak perduli seperti dulu. Meskipun dia tidak bersama siapapun kali ini. Hanya beberapa urusan yang membuat kita masih dekat. Tapi aku tetap tidak perduli lagi.
Setelah kita benar benar kelas 3 tidak ada tanggung jawab yang berhubungan dengan dia. Hari hari berlalu aku dan dia hanya saling sapa kadang kala dia mulai bercerita panjang lebar. Pernah aku berfikir, apakan setelah ini kamu akan pergi lagi?. Tapi aku hanya membiarkan semuanya berlalu dengan apa adanya.
Banyak perubahan yang terjadi setahun belakngan dengan dia. Dia mulai berfikir yang tidak tidak dari cerita panjang lebarnya. Dia dekat dengan perempuan lain karena satu obsesi. Aku benar benar berfikir dia benar benar sudah tak sama. Beberapa kali aku membaca di salah satu akunnya yang sering banyak tulisan menghiasi, aku tahu siapa cewek itu. Kalian memang cocok dengan obsesi, kekurangn dan kelebihan di antara kalian. Itu kesimpulan yang aku dapat.
Setelah kelulusan tiba, sebenarnya kali ini aku berniat meminta foto dengannya hanya sebagai kenangan. Tapi saat aku mencarinya, dia sudah menghilang. Sedikit kecewa sih. Tapi tidak terlalu berpengaruh di hidupku. Sejak tiu kita tidak bertemu lagi. Aku tahu dia sudah kuliah di jurusan dan universitas favorit. Itu yang terakhir aku dengar dan baca darinya.
Aku naik ke motornya, lalu kamu berangkat. Sampai di tujuan sudah lumayan banyak yang datang. Aku duduk di antara sahabatku.
"Kamu sama Dirga?" Salah satu sahabatku membisikkan kalimat itu. Aku langsung menggeleng kuat. Acara demi acara berlalu sepertinya ada yang aneh. Beberapa orang melihatku tidak enak. Dalam perjalanan pulang dia mengajakku duduk di sebuah tempat yang sering di kunjungi para muda mudi.
"Di tanyan sama anak anak?" Dia membuka pembicaraan sambil mengaduk coffe late yang di pesan.
"Iya, emang aneh ya?"
"Mereka aja yang enggak bisa biasa"
"Asti mulai berubah" dia masih dengan cewek itu.
"Tapi lebih baik, kita udah enggak kayak dulu, yang kalo kata orang kita barbar sekarang kita tenang..........." dan cerita panjang lainnya malam ini. Malam ini benar benar kita habiskan bersama. Tentang sekolahnya, tetang ceweknya dan tentang keluarganya yang perlu di ceritakan padaku. Dan mulai saat itu aku menyadari tetang sesuatu hal. Aku hanya sahabat pendengar yang baik bagi dia. Malam itu aku tersenyum entah berarti apa.

Comments to Tidak Lebih Dari Itu


Post a Comment

Tidak Lebih Dari Itu

Posted by: Nisrina Arsyad Masturo on Friday, August 2, 2013
Suatu sore yang cerah, aku seperti melihat keajaiban di depan rumahku saat aku tahu dia tiba tiba datang ke rumah. Sore ini aku memang ada acara kumpul dengan teman lama termasuk dia. Tapi aku tidak memintanya untuk menjemputku. Aku tersenyum ke arahnya
"Hi, kok di sini?"
"Kamu enggak ikut ngumpul hari ini?" Suaranya masih ketus seperti yang dulu pertama kali aku kenal dengannya.
"Ikut, tumben aja mau ke rumah"
"Aku udah sms kamu tadi" aku teringat tentang sesuatu, dimana hapeku ya? Ini kebiasaan lamaku, hape entah kemana.
"Tunggu bentar ya, aku ambil tas" dia tersenyum ke arahku.
Ini pertama kalinya aku bertemu dengan dia setelah kelulusan SMA, 8 bulan yang lalu. Dan setelah aku terlibat berbagai konflik batin dan konflik fisik dengan dia. Dia adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta di masa masa indah menjalani SMA. Aku mengenalnya karena kita satu kelas dan secara kebetulan extra kita sama. Hari hari berlalu menjadi minggu yang indah menurutku. Bercerita panjang lebar dengan topik apapun itu, canda tawa keluar dari masing masing mulut kami, atau perasaan sedih memikirkan segalanya. Dan saat itu aku mulai mengenalnya. Aku tahu dia mempunyai cewek lain di luar sekolah ini. Tapi who care? Aku cuma mengaguminya. Aku juga pernah bertemu dengan ceweknya. Manis. Itu kesan pertama yang aku lihat ceweknya untuk pertama kalinya. Karena kita di beban tugaskan pada suatu tugas yang kita berdua harus selesaikan. Kita berhasil menyelesaikan tugas dengan lancar atau ada cekcok di beberapa moment tidak penting. Satu kenangan yang masih hangat tersimpan di dalam memori ingatanku. Dia mengajakku menonton untuk pertama kalinya, meeskipun tidak berdua aku cukup senang. Kami ber-enam waktu itu. Kesenangan itu lenyap begitu saja seiring dengan jalannya waktu, kami mulai menjauh sedikit demi sedikit. Aku merasakan perubahan pada pribadinya. Dia menjadi orang lain. Ada orang lain di antara kami. Tapi akukan bukan siapa siapa untuk melarangnya. Mulai dari saat itu aku seperti tidak mengenalnya, begitupula dengan dia yang memang tidak peduli. Sampai pada kenaikan kelas kita tidak sekelas lagi hanya bertetangga. Aku tersenyum senang melihat papan pengumuman waktu itu. Dan pertama kali kita mulai mengobrol setelah liburan panjang hari raya.
"Mohon maaf lahir dan batin ya bel" itu kalimat pertamanya, aku sempat tertegun sesaat. Aku menyalami tangan yang terulur di hadapanku itu, kita sama sama tersenyum. Senyumnya masih sama. Manis. Dia duduk di kursi depanku dan terdiam. Hari ini tidak ada pelajaran hari pertama.
"Aku putus sama Lexa" dia memulai pembicaraan. Aku melihatbke arah matanya, mungkin ada aura penyesalan di sana. "Dia tahu aku sam Dini" kali ini aku benar benar terkesiap dengan pengakuan-nya. Dini itu kakak kelas yang bikin aku sama dia sediikit menjauh dulu. Aku tidak berkomentar. "Menurutmu?"
"Kalo mau di perjuangin, jangan pernah main main dengan perasaan. Jangan ada keburukan di antara kalin" ucapku mungkin sedikit menyindir perasaannya. Tapi itu benar kan? Dia tertegun untuk sesaat. Sepersekian detik kemudian dia tersenyum ke arahku.
"Ayo ke lab" seseorang menepuk bahunya dari belakang. Mungkin dia sedikit kaget dengan tepukan itu. Sepertinya banyak yang sedang ia pikirkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa banyak membantunya. Dia kembali tersenyum ke arahku lalu berlalu dari hadapanku.
Beberapa bulan kemudian angin itu berhembus keras ke arahku membawa berita yang mengejutkan. Meskipun sudah lama berita itu berlalu tapi tetap membuatku tertegun. Dia bersama kakakmkelas itu. Mulai dari itu aku tidak banyak perduli seperti dulu. Meskipun dia tidak bersama siapapun kali ini. Hanya beberapa urusan yang membuat kita masih dekat. Tapi aku tetap tidak perduli lagi.
Setelah kita benar benar kelas 3 tidak ada tanggung jawab yang berhubungan dengan dia. Hari hari berlalu aku dan dia hanya saling sapa kadang kala dia mulai bercerita panjang lebar. Pernah aku berfikir, apakan setelah ini kamu akan pergi lagi?. Tapi aku hanya membiarkan semuanya berlalu dengan apa adanya.
Banyak perubahan yang terjadi setahun belakngan dengan dia. Dia mulai berfikir yang tidak tidak dari cerita panjang lebarnya. Dia dekat dengan perempuan lain karena satu obsesi. Aku benar benar berfikir dia benar benar sudah tak sama. Beberapa kali aku membaca di salah satu akunnya yang sering banyak tulisan menghiasi, aku tahu siapa cewek itu. Kalian memang cocok dengan obsesi, kekurangn dan kelebihan di antara kalian. Itu kesimpulan yang aku dapat.
Setelah kelulusan tiba, sebenarnya kali ini aku berniat meminta foto dengannya hanya sebagai kenangan. Tapi saat aku mencarinya, dia sudah menghilang. Sedikit kecewa sih. Tapi tidak terlalu berpengaruh di hidupku. Sejak tiu kita tidak bertemu lagi. Aku tahu dia sudah kuliah di jurusan dan universitas favorit. Itu yang terakhir aku dengar dan baca darinya.
Aku naik ke motornya, lalu kamu berangkat. Sampai di tujuan sudah lumayan banyak yang datang. Aku duduk di antara sahabatku.
"Kamu sama Dirga?" Salah satu sahabatku membisikkan kalimat itu. Aku langsung menggeleng kuat. Acara demi acara berlalu sepertinya ada yang aneh. Beberapa orang melihatku tidak enak. Dalam perjalanan pulang dia mengajakku duduk di sebuah tempat yang sering di kunjungi para muda mudi.
"Di tanyan sama anak anak?" Dia membuka pembicaraan sambil mengaduk coffe late yang di pesan.
"Iya, emang aneh ya?"
"Mereka aja yang enggak bisa biasa"
"Asti mulai berubah" dia masih dengan cewek itu.
"Tapi lebih baik, kita udah enggak kayak dulu, yang kalo kata orang kita barbar sekarang kita tenang..........." dan cerita panjang lainnya malam ini. Malam ini benar benar kita habiskan bersama. Tentang sekolahnya, tetang ceweknya dan tentang keluarganya yang perlu di ceritakan padaku. Dan mulai saat itu aku menyadari tetang sesuatu hal. Aku hanya sahabat pendengar yang baik bagi dia. Malam itu aku tersenyum entah berarti apa.

Comments to Tidak Lebih Dari Itu


Post a Comment

hy readers! my real name Nisrina Nabillah. you can call me Nisrina or bella. 17years old. Muhammadiyah 2 Senior High School. just ordinary girl. enjoy guys. :)
This site talk about me, my friends, my mind, my life, talk about life, lofe, and laugh.
Put links to your affiliates/link exchanges
just me and my self.
Contact form here, maybe?